BREAKING NEWS
Sabtu, 14 Maret 2026

Ketika Kekerasan Menguji Komitmen Demokrasi

BITV Admin - Sabtu, 14 Maret 2026 13:52 WIB
Ketika Kekerasan Menguji Komitmen Demokrasi
Detik-detik Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, disiram air keras oleh dua orang tak dikenal. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Prof. Dr. Prudensius Maring

KEKERASAN terhadap individu yang menyuarakan kritik publik hampir tidak pernah dipahami masyarakat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia sering menjadi pemicu yang membuka kembali ingatan kolektif tentang pengalaman kekuasaan di masa lalu.

Dalam perspektif pemikiran Michel Foucault, peristiwa semacam ini dapat dipahami sebagai momen ketika "arsip" pengalaman kekuasaan yang tersimpan dalam memori sosial tiba-tiba terbuka kembali.

Baca Juga:

Karena itu, tindakan kekerasan terhadap seorang aktivis tidak hanya dipandang sebagai tindak kriminal terhadap individu, tetapi juga sebagai peristiwa yang memanggil kembali memori tentang relasi antara kekuasaan, kritik, dan pembungkaman dalam kehidupan publik.

Dalam situasi seperti ini, negara dan pemerintah sekaligus diuji kesungguhannya dalam menjaga ruang demokrasi yang memungkinkan kritik berkembang secara sehat.

Kekerasan terhadap seorang aktivis HAM tidak hanya menyentuh persoalan keamanan individu, tetapi juga menyentuh dimensi yang lebih luas mengenai bagaimana negara menjamin kebebasan sipil dalam kehidupan demokrasi.

Beberapa tahun terakhir, kehidupan demokrasi di Indonesia relatif bergerak dalam suasana yang lebih kondusif.

Ruang publik terasa lebih terbuka, kritik masyarakat dapat disampaikan dengan lebih leluasa, dan berbagai upaya memperbaiki tata kelola pemerintahan terus didorong melalui prinsip transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi.

Perkembangan ini memberi harapan bahwa proses demokratisasi semakin menemukan pijakan yang lebih kokoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun dalam konteks seperti itu, setiap tindakan kekerasan terhadap individu yang terlibat dalam advokasi publik dengan mudah memicu kegelisahan baru di tengah masyarakat.

Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, misalnya, segera memicu perhatian luas karena ia dikenal aktif dalam advokasi isu-isu hak asasi manusia.

Peristiwa ini dengan cepat dihubungkan dengan berbagai pengalaman lain yang pernah muncul di ruang publik.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Jaksa Ajukan Banding atas Vonis 6 Terdakwa Kasus Penyelundupan Sabu 1,9 Ton di Batam, Dinilai Terlalu Ringan
Budaya Hukum Jadi Kunci Kepercayaan pada Polri, Peneliti BRIN: Di Belanda, Masalah Diselesaikan Warga Sebelum Polisi Turun Tangan
Novel Baswedan Kecam Penyiraman Air Keras Terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus, Desak Presiden Prabowo Usut Tuntas: Ini Upaya Membunuh!
Di Bulan Suci Ramadan, 234 SC Percut Sei Tuan Pererat Solidaritas dan Kebersamaan Lewat Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama
Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Mewah-mewahan
Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS: Yusril Tuding Ada Dalang di Balik Layar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru