BREAKING NEWS
Selasa, 19 Mei 2026

KTT ASEAN dan Diplomasi Strategis Prabowo

BITV Admin - Selasa, 19 Mei 2026 07:47 WIB
KTT ASEAN dan Diplomasi Strategis Prabowo
Upacara pembukaan KTT ke-48 ASEAN ditutup dengan sesi foto bersama yang memperlihatkan para pemimpin negara ASEAN berdiri bergandengan tangan sebagai simbol persatuan dan solidaritas kawasan. (foto: Aaron Favila/Pool via REUTERS)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Di ASEAN, posisi ini sangat penting. Asia Tenggara hari ini menjadi arena tarik-menarik pengaruh. Laut China Selatan masih menyimpan potensi gesekan. Myanmar belum selesai. Konflik Timur Tengah menekan energi. Rantai pasok global rapuh.

Sementara negara-negara besar terus mencari pengaruh di Indo-Pasifik. Dalam situasi itu, Indonesia harus hadir sebagai jangkar stabilitas.

Kehadiran Presiden Prabowo di KTT ASEAN Filipina harus dimaknai sebagai sinyal bahwa Indonesia tidak menarik diri dari panggung regional. Sebaliknya, Indonesia ingin mendorong ASEAN lebih sigap menghadapi krisis.

Potensi KTT ASEAN di Cebu sangat besar, apalagi isunya para pemimpin negara ASEAN fokus menyiapkan pembahasan mengenai kerja sama energi, pasokan pangan, perlindungan warga ASEAN di luar negeri, kebebasan navigasi, serta pentingnya jalur laut yang aman berdasarkan hukum internasional.

Di titik ini, diplomasi Indonesia harus bekerja pada dua jalur sekaligus.

Pertama, jalur pragmatis dengan memastikan kerja sama energi, pangan, perdagangan, investasi, dan konektivitas memberi manfaat langsung bagi rakyat.

Kedua, jalur strategis dengan memastikan Indonesia tetap dihormati sebagai kekuatan utama Asia Tenggara yang mampu menjaga keseimbangan kawasan.

Prabowo memiliki modal politik untuk memainkan peran itu. Latar belakangnya di bidang pertahanan membuatnya memahami bahwa dunia tidak sepenuhnya bergerak dengan niat baik. Dalam hubungan internasional, kepentingan nasional tetap menjadi fondasi utama.

Namun, pengalaman itu juga harus diterjemahkan dalam diplomasi yang rasional, terukur, dan tidak emosional.

Diplomasi yang kuat bukan diplomasi yang gaduh. Diplomasi yang kuat merupakan diplomasi yang tahu kapan harus bicara keras, kapan harus merangkul, kapan harus menahan diri, dan kapan harus mengambil posisi.

Indonesia harus bisa berbicara dengan China tanpa kehilangan hubungan dengan Amerika Serikat. Bisa bekerja sama dengan BRICS tanpa menutup pintu dengan Uni Eropa.

Bisa membela Palestina tanpa kehilangan peran sebagai jembatan perdamaian. Bisa menjaga ASEAN tanpa terseret rivalitas blok besar.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wamenkop Farida Dorong Mahasiswa UNNES Jadi Penggerak Koperasi Desa dan Cetak Manajer Profesional
Perry Warjiyo Disarankan Mundur Imbas Rupiah Melemah, Gubernur BI Tegas: Yakin Stabil
Purbaya Respons Ditanya Prabowo Soal Dolar di Halim: Fondasi Ekonomi RI Baik
Purbaya: Pernyataan Prabowo soal Warga Desa Tak Pakai Dolar untuk Hibur Rakyat
Kemkomdigi Blokir 3,45 Juta S1tu5 Judaii, Perputaran Dana Tembus Rp286 Triliun
PSI Tanggapi PDIP yang Singgung Ijazah Jokowi, Sebut Kekanak-kanakan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru