Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Melawan Soeharto butuh mimbar. Melawan Google butuh kill switch nasional. Melawan tentara butuh mahasiswa. Melawan algoritma butuh insinyur + Presiden tangan besi.
Sayangnya, kampus masih cetak orator kotor, bukan arsitek kedaulatan digital.
Kedaulatan Digital butuh 3 hal yang dibenci Toa Masjid Kampus.
Pertama, Sentralisasi Data. Semua data WNI wajib di PDN.
Kedua, Sensor Algoritmik. Negara berhak takedown konten dan aplikasi perusak semua generasi dalam 1x24 jam.
Ketiga, Proteksi Juara Nasional. Pilih 5 AI Champions, beri karpet merah, lindungi dari gugatan asing.
Tiga hal ini butuh Perppu, bukan seminar.
Setiap kali negara mau pasang gigi, Toa Masjid Kampus bunyi: "Rezim represif!"
Lucunya, yang mereka bela adalah kebebasan platform asing untuk menjajah.
UU ITE mau direvisi agar bisa blokir judi online cepat? Dituduh bungkam kritik. PDN mau diwajibkan?
Dituduh monopoli. Inilah komedi Reformasi: kampus jadi tameng penjajah baru atas nama demokrasi yang tidak murni dan tak berilmu.
Pendidikan politik kita gagal total. Mahasiswa diajari curiga ke Istana, tapi percaya buta ke Silicon Valley.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.