BREAKING NEWS
Senin, 01 Juni 2026

Toa Masjid Kampus vs Kedaulatan Digital: Siapa Musuh Bangsa Sebenarnya?

BITV Admin - Senin, 01 Juni 2026 07:36 WIB
Toa Masjid Kampus vs Kedaulatan Digital: Siapa Musuh Bangsa Sebenarnya?
Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn, seorang Akademisi/Praktisi Hukum. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Melawan Soeharto butuh mimbar. Melawan Google butuh kill switch nasional. Melawan tentara butuh mahasiswa. Melawan algoritma butuh insinyur + Presiden tangan besi.

Sayangnya, kampus masih cetak orator kotor, bukan arsitek kedaulatan digital.


Kedaulatan Digital butuh 3 hal yang dibenci Toa Masjid Kampus.

Pertama, Sentralisasi Data. Semua data WNI wajib di PDN.

Kedua, Sensor Algoritmik. Negara berhak takedown konten dan aplikasi perusak semua generasi dalam 1x24 jam.

Ketiga, Proteksi Juara Nasional. Pilih 5 AI Champions, beri karpet merah, lindungi dari gugatan asing.

Tiga hal ini butuh Perppu, bukan seminar.


Setiap kali negara mau pasang gigi, Toa Masjid Kampus bunyi: "Rezim represif!"

Lucunya, yang mereka bela adalah kebebasan platform asing untuk menjajah.

UU ITE mau direvisi agar bisa blokir judi online cepat? Dituduh bungkam kritik. PDN mau diwajibkan?

Dituduh monopoli. Inilah komedi Reformasi: kampus jadi tameng penjajah baru atas nama demokrasi yang tidak murni dan tak berilmu.

Pendidikan politik kita gagal total. Mahasiswa diajari curiga ke Istana, tapi percaya buta ke Silicon Valley.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Hari Tri Suci Waisak 2026, Rico Waas Ajak Warga Medan Perkuat Toleransi dan Sebarkan Cahaya Kebaikan
Satgas PRR Perkuat Layanan Air Bersih Pascabencana di Sumatera, SPAM Karang Baru Ditargetkan Rampung Agustus 2026
Tim U-19 Thailand dan Malaysia Jalani Latihan di Stadion Teladan
Budi Arie: Pak Jokowi Keliling Saja Sudah Heboh, Padahal Hanya Ingin Mendengar dan Menyapa Rakyat
Kyai Said Aqil Siroj: Hawa Nafsu Lebih Sulit Dilawan daripada Godaan Setan
Jokowi Keliling Indonesia Mulai Juni 2026, Pengamat: Ahli Pencitraan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru