Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Diajari benci aparat, tapi cinta algoritma asing.
Diajari "lawan penguasa", tapi tidak diajari "lawan penjajah data".
Hasilnya aktivis 2026 jago bikin petisi Change.org, tapi gagap kalau disuruh bangun firewall nasional.
Toa Masjid Kampus melahirkan generasi komentator mulut kotor, bukan komandan.
Jadi siapa musuh sebenarnya? Bukan Presiden. Bukan DPR.
Musuhnya adalah ilusi bahwa kebebasan bicara sama dengan kebebasan berdaulat.
Musuh adalah Toa Masjid Kampus yang bikin bangsa alergi pada "Tangan Besi" padahal rumah kita sudah dirampok.
Musuh adalah romantisme Reformasi yang memuja keributan dan menghina kecepatan. Di era algoritma, ribut sama dengan kalah.
Maka pilihannya jelas. Mati bersama Toa Masjid Kampus, atau hidup dengan Kedaulatan Digital. Jika pilih hidup, diamkan toa.
Nyalakan otak. Beri Presiden wewenang semi otoriter 20 tahun untuk urusan data, AI, dan siber.
Biar dia beresin. Biar dia gebuk. Biar dia tidak populer.
Karena 2045, anak cucu kita tidak akan tanya "Dulu BEM UGM kritis atau tidak?".
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.