BREAKING NEWS
Senin, 01 Juni 2026

Dari Jalur Rempah ke Kewarganegaraan Indonesia: Jejak Tionghoa, India, dan Arab di Nusantara

BITV Admin - Senin, 01 Juni 2026 17:59 WIB
Dari Jalur Rempah ke Kewarganegaraan Indonesia: Jejak Tionghoa, India, dan Arab di Nusantara
Di antara ratusan kelompok etnis yang hidup di Nusantara, terdapat komunitas keturunan Tionghoa, India, dan Arab yang telah hadir jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Krisna

INDONESIA kerap disebut sebagai salah satu negara paling majemuk di dunia. Di antara ratusan kelompok etnis yang hidup di Nusantara, terdapat komunitas keturunan Tionghoa, India, dan Arab yang telah hadir jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Mereka datang dalam gelombang yang berbeda-beda, dengan tujuan yang beragam: berdagang, menyebarkan agama, mencari penghidupan, hingga membangun keluarga di tanah rantau.


Keberadaan mereka bukanlah fenomena baru. Sejarah mencatat, sejak berabad-abad lalu Nusantara telah menjadi simpul penting dalam jaringan perdagangan dunia yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Eropa. Dari jalur perdagangan inilah interaksi antarmanusia dan budaya berlangsung secara intensif, membentuk wajah Indonesia yang dikenal saat ini.

Pedagang dari Negeri Tiongkok

Baca Juga:

Hubungan antara Tiongkok dan Nusantara telah terjalin sejak awal Masehi. Catatan para musafir dan kronik kekaisaran Tiongkok menyebutkan adanya hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara sejak abad ke-5.

Pada masa Sriwijaya, antara abad ke-7 hingga ke-13, kapal-kapal dagang Tiongkok rutin berlayar ke pelabuhan-pelabuhan di Sumatra. Aktivitas perdagangan semakin berkembang ketika Majapahit mencapai masa kejayaannya pada abad ke-14. Para pedagang Tionghoa mulai menetap di sejumlah kota pelabuhan, membentuk komunitas-komunitas permanen yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.

Kedatangan mereka tidak selalu berlangsung dalam satu gelombang besar. Sebagian datang sebagai pedagang bebas, sebagian lagi sebagai pengrajin, pelaut, dan pekerja. Pada masa kolonial Belanda, migrasi dari Tiongkok Selatan meningkat seiring kebutuhan tenaga kerja di sektor

Perkebunan, Pertambangan, dan Perdagangan.

Dalam struktur masyarakat Hindia Belanda, etnis Tionghoa ditempatkan dalam kategori "Timur Asing" bersama komunitas Arab dan India. Meski memperoleh sejumlah hak ekonomi yang lebih luas dibanding penduduk pribumi, mereka juga menghadapi berbagai pembatasan sosial dan politik.

Pengaruh India yang Datang Lebih Awal

Jika kedatangan orang Tionghoa identik dengan perdagangan maritim, jejak India di Nusantara bahkan dapat ditelusuri lebih awal. Sejak abad pertama hingga kedua Masehi, pedagang dari India Selatan dan wilayah Gujarat telah menjalin hubungan dagang dengan berbagai kerajaan di kepulauan Indonesia.

Namun pengaruh India tidak berhenti pada aktivitas ekonomi. Bersama para pedagang datang pula agama Hindu dan Buddha, bahasa Sanskerta, sistem penanggalan, seni arsitektur, serta konsep pemerintahan kerajaan.

Bukti paling jelas terlihat pada kerajaan-kerajaan awal Nusantara seperti Kutai di Kalimantan Timur dan Tarumanagara di Jawa Barat. Prasasti-prasasti yang ditemukan dari masa itu menggunakan bahasa Sanskerta dan aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan.

Pada masa kolonial, migrasi dari India kembali meningkat. Banyak orang Tamil didatangkan ke Sumatra Timur untuk bekerja di perkebunan tembakau, teh, dan karet. Sebagian lainnya menjadi pedagang tekstil, rempah-rempah, dan perhiasan di berbagai kota pelabuhan.

Hingga kini, komunitas keturunan India masih dapat ditemukan dalam jumlah cukup besar di Sumatra Utara, terutama di Medan dan kawasan bekas perkebunan Deli.

Arab dan Penyebaran Islam

Berbeda dengan komunitas Tionghoa dan India yang identik dengan perdagangan, kedatangan orang Arab memiliki kaitan erat dengan penyebaran Islam.

Para pedagang dari Hadramaut, Yaman, telah berlayar ke Asia Tenggara sejak abad ke-7. Namun migrasi dalam jumlah besar baru terjadi antara abad ke-13 hingga ke-16, beriringan dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

Mereka tidak hanya berdagang rempah-rempah dan hasil bumi, tetapi juga membangun jaringan pendidikan agama, dakwah, serta hubungan politik dengan penguasa lokal. Melalui perkawinan dengan masyarakat setempat, terbentuk komunitas Arab-Indonesia yang tersebar di Aceh, Palembang, Batavia, Surabaya, Gresik, dan berbagai kota pesisir lainnya.

Banyak keluarga keturunan Arab kemudian memainkan peran penting dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia. Salah satu tokoh yang menonjol adalah Abdurrahman Baswedan, diplomat dan pejuang kemerdekaan yang mendorong keterlibatan masyarakat keturunan Arab dalam perjuangan nasional.

Menjadi Bagian dari Bangsa Indonesia

Kemerdekaan Indonesia pada 1945 menghadirkan babak baru bagi seluruh kelompok etnis yang tinggal di Nusantara. Pertanyaan mengenai siapa yang berhak menjadi warga negara Indonesia menjadi perdebatan panjang pada masa awal republik.

Pemerintah kemudian mengatur persoalan tersebut melalui Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Regulasi ini menjadi dasar hukum bagi warga keturunan Tionghoa, India, Arab, dan kelompok lainnya untuk memperoleh status sebagai warga negara Indonesia.

Bagi sebagian warga keturunan Tionghoa, proses tersebut tidak selalu sederhana. Perjanjian Dwi Kewarganegaraan Indonesia–Tiongkok yang ditandatangani pada 1955 memberi pilihan untuk menentukan kewarganegaraan. Dalam praktiknya, isu identitas dan loyalitas sering kali menjadi persoalan politik yang sensitif.

Situasi semakin rumit pada masa Orde Baru. Berbagai kebijakan asimilasi diterapkan terhadap warga keturunan Tionghoa, termasuk pembatasan penggunaan bahasa, aksara, dan ekspresi budaya di ruang publik. Kebijakan tersebut baru dicabut setelah Reformasi 1998.

Warisan Keberagaman

Hari ini, komunitas keturunan Tionghoa, India, dan Arab telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Indonesia. Mereka hadir dalam dunia usaha, pendidikan, kebudayaan, olahraga, hingga politik.

Jejak mereka dapat ditemukan di berbagai sudut negeri: dari masjid tua yang dibangun saudagar Arab, kuil Hindu peninggalan pengaruh India, hingga kawasan pecinan yang menjadi saksi panjang sejarah perdagangan Nusantara.

Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok etnis semata. Ia tumbuh dari pertemuan berbagai bangsa, budaya, dan keyakinan yang selama berabad-abad saling berinteraksi di jalur-jalur perdagangan dunia. Dari proses panjang itulah lahir sebuah bangsa bernama Indonesia.*

*)Penulis adalah Krisna

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Terima Utusan Emir Qatar di Istana, Bahas Kerja Sama Strategis hingga Pertahanan
Bobby Nasution: Pancasila Jadi Kunci Hadapi Tantangan Global, ASN Diminta Perkuat Pelayanan Publik
GEKIRA Bongkar Deretan Hoaks soal Prabowo, dari Sapi Kurban hingga Kunjungan ke Paris
Prabowo: Indonesia Bisa Jadi Bangsa Pemberi Bantuan, Bukan Peminta Bantuan
Prabowo Pastikan Makan Bergizi Gratis Terus Berjalan Demi Masa Depan Anak Indonesia
Prabowo Beberkan Alasan Ekspor SDA Satu Pintu, Keuntungan Tak Boleh Lari ke Luar Negeri
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru