BREAKING NEWS
Jumat, 31 Juli 2026

Presiden Dipilih Bukan untuk Memenangkan Survei

Redaksi - Jumat, 31 Juli 2026 13:46 WIB
Presiden Dipilih Bukan untuk Memenangkan Survei
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Ija Suntana

LUMRAH saja, dalam politik, selalu ada angka yang naik dan ada angka yang turun.

Hari ini seorang politisi berada di puncak elektabilitas. Besok bisa digeser tokoh lain.

Baca Juga:

Minggu depan bisa berubah lagi. Itulah sifat politik demokrasi.

Elektabilitas bergerak mengikuti dinamika masyarakat, pemberitaan media, kondisi ekonomi, bahkan suasana psikologis publik.

Karena itu, tidak ada alasan bagi pemerintah, terutama presiden, yang sedang menjabat untuk kehilangan fokus hanya karena muncul survei yang menunjukkan ada tokoh lain dengan elektabilitas lebih tinggi.

Mengapa? Karena presiden tidak dipilih untuk memenangkan survei.

Presiden dipilih untuk menjalankan pemerintahan. Ini dua pekerjaan yang berbeda.

Survei berbicara tentang kemungkinan masa depan.

Pemerintahan berbicara tentang tanggung jawab hari ini. Yang satu mengukur peluang politik, yang lain menyelesaikan persoalan rakyat.

Jangan sampai keduanya tertukar.

Kalau harga cabai sedang mahal, orang cenderung kesal. Kalau lapangan kerja sedang sulit, orang menjadi pesimistis.

Kalau ekonomi dunia sedang tidak baik, rasa khawatir ikut meningkat.

Semua perasaan itu kemudian masuk ke dalam jawaban survei.

Kalau setiap kali muncul survei, pemerintah langsung gelisah, sibuk menghitung dukungan politik, mengubah prioritas, atau lebih banyak memikirkan citra daripada pekerjaan, maka yang paling dirugikan bukan para politisi.

Yang paling dirugikan adalah rakyat. Rakyat tidak sedang menunggu siapa paling tinggi elektabilitasnya.

Rakyat sedang menunggu harga kebutuhan pokok lebih stabil, lapangan pekerjaan bertambah, dan pelayanan publik semakin cepat.

Rakyat tidak bisa menunda kehidupan hanya karena elite politik sedang sibuk membaca hasil survei.

Ibarat seorang kapten kapal sedang membawa ribuan penumpang menyeberangi lautan.

Di tengah perjalanan, ia mendapat kabar ada kapten kapal lain yang lebih disukai masyarakat.

Apakah ia boleh berhenti mengemudikan kapalnya?

Apakah ia boleh meninggalkan kemudi hanya karena memikirkan popularitas orang lain?

Tentu tidak. Tugas sang kapten tetap satu, memastikan seluruh penumpang sampai dengan selamat.

Begitu pula seorang presiden.

Selama amanah masih berada di pundaknya, selama masa jabatan belum berakhir, seluruh tenaga dan pikirannya harus dicurahkan untuk mengelola negara, bukan mengejar siapa yang sedang unggul dalam survei.

Demokrasi akan kehilangan kualitasnya apabila pemerintahan berubah menjadi arena perlombaan citra setiap hari.

Sebab pemerintahan memerlukan konsentrasi, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan, termasuk keputusan yang mungkin tidak langsung populer tetapi penting bagi masa depan bangsa.

Berlomba Cari Simpati

Biarlah para calon pemimpin berlomba mendapatkan simpati masyarakat. Itu memang ruang mereka.

Tetapi, pemerintah yang sedang memegang amanah jangan ikut terseret ke dalam perlombaan sama.

Negara tidak boleh berhenti bekerja hanya karena grafik elektabilitas aktor politik sedang berubah.

Survei akan datang dan pergi. Angka akan terus bergerak. Tokoh yang hari ini berada di atas bisa saja besok turun.

Yang hari ini berada di bawah bisa saja naik. Semua itu adalah bagian normal dari demokrasi.

Ada satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu tanggung jawab negara kepada rakyat. Selama masih memegang mandat, teruslah bekerja.

Jadikan survei sebagai pengingat, bukan alasan untuk kehilangan arah.

Rakyat membutuhkan pemerintah tetap bekerja meskipun elektabilitasnya sedang diuji.

Jangan biarkan energi pemerintahan habis untuk mengejar angka. Jangan biarkan birokrasi berubah menjadi mesin pencitraan.

Rakyat tidak hidup dari angka survei.

Rakyat hidup dari harga pangan yang terjangkau, pekerjaan yang tersedia, sekolah yang baik, pelayanan kesehatan mudah, jalan bagus, dan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan biarkan rakyat menjadi korban karena para elite lebih sibuk memikirkan posisi mereka dalam survei daripada posisi bangsa di masa depan.

Jangan sampai rakyat membayar harga dari kecemasan politik para elite.

Ketika terlalu banyak energi dihabiskan untuk memantau elektabilitas, terlalu sedikit energi yang tersisa untuk menyelesaikan persoalan bangsa.

Waktu semestinya digunakan memperbaiki pelayanan publik, mengendalikan harga kebutuhan pokok, membuka lapangan kerja, dan mempercepat pembangunan justru habis untuk mengelola persepsi.

Rakyat tidak hidup dari angka survei.

Mereka hidup dari penghasilan yang cukup, pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan yang mudah diakses, serta rasa aman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.*(nasional.kompas.com)


*) Penulis adalah Dosen Pengajar pada Program Studi Hukum Tata Negara UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Bakal Kumpulkan Seluruh Kepala Daerah, Ada Agenda Besar Apa?
Jurnalis dan Masyarakat Sipil Gelar Aksi di Medan, Desak Presiden Prabowo Klarifikasi Pernyataan "Londo Ireng"
Oknum Polisi Tersangka Korupsi Bansos Labusel Rp1,9 Miliar Ternyata Menantu Eks Bupati, Diduga Terlibat Sejak Perencanaan
Pemerintah Aceh Desak Pertamina Benahi Layanan SPBU, Antrean BBM Dinilai Berpotensi Ganggu Fasilitas Umum
Jokowi Safari ke NTT, Relawan Antusias: Masyarakat Rindu Kehadiran Beliau
SBY dan AHY Beri Pesan Khusus ke Kepala Daerah Demokrat: Utamakan Rakyat dan Dukung Program Prabowo
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru