BREAKING NEWS
Kamis, 13 Agustus 2026

Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam

Administrator - Rabu, 12 Agustus 2026 20:48 WIB
Pariwisata Regeneratif: Jalan Baru Bali Menjaga Desa, Budaya, dan Alam
Dr. Trisno Nugroho, S.E., MBA.(Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

1. Memulihkan
Pariwisata harus ikut memulihkan lingkungan, budaya, dan kehidupan sosial. Jika ada kawasan yang rusak karena tekanan kunjungan, harus dipulihkan. Jika ada nilai budaya yang mulai melemah, harus dikuatkan kembali.

2. Menjaga Daya Dukung Tempat
Setiap desa, pantai, hutan, pura, kawasan heritage, dan kota memiliki batas. Pariwisata yang baik harus menghormati batas itu. Bali tidak boleh dipaksa menanggung beban kunjungan tanpa memperhitungkan air, sampah, lalu lintas, ruang, dan kenyamanan warga.

3. Memberi Manfaat Lebih Besar
Pariwisata harus memberi manfaat positif yang lebih besar daripada beban yang ditimbulkan. Pendapatan dari pariwisata harus kembali untuk masyarakat lokal, desa adat, lingkungan, budaya, dan peningkatan kualitas destinasi.

4. Menguatkan Budaya dan Masyarakat
Budaya Bali tidak boleh hanya menjadi dekorasi pariwisata. Adat, ritual, bahasa, arsitektur, kuliner, seni, nilai Tri Hita Karana, dan kehidupan masyarakat harus semakin kuat karena pariwisata, bukan melemah karena pariwisata.

5. Menyatukan Para Pihak
Pariwisata regeneratif tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Desa adat, pengelola destinasi, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, wisatawan, dan generasi muda harus bekerja bersama.

6. Membangun Sistem yang Terus Belajar
Destinasi harus berani mengevaluasi diri. Berapa sampah yang dihasilkan? Apakah masyarakat merasa diuntungkan? Apakah wisatawan memahami nilai budaya? Apakah lingkungan membaik? Apakah manfaat ekonomi merata? Tanpa data dan evaluasi, pariwisata akan mudah terjebak pada rutinitas dan promosi semata.

Bukan Hanya untuk Penglipuran

Model ini lahir dari Penglipuran, tetapi pelajarannya penting bagi desa wisata lain di Bali dan Indonesia.

Setiap desa tentu tidak harus meniru Penglipuran. Desa pesisir punya tantangan berbeda dengan desa pegunungan. Desa pertanian berbeda dengan desa budaya. Kawasan kota tua berbeda dengan desa adat. Tetapi prinsipnya sama: pariwisata harus membuat tempat menjadi lebih baik.

Di desa pesisir, pariwisata regeneratif dapat berarti membersihkan pantai, mengurangi sampah laut, memperkuat nelayan, dan memulihkan ekosistem pesisir.

Di desa pertanian, pariwisata regeneratif dapat berarti menjaga sawah, air, benih lokal, dan martabat petani.

Di desa budaya, pariwisata regeneratif berarti memperkuat adat, arsitektur, ritual, seni, dan generasi muda.

Di kawasan kota, pariwisata regeneratif dapat berarti menghidupkan kembali kawasan heritage, ruang publik, UMKM, transportasi publik, dan kualitas hidup warga.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
DPR Terima Surpres, Destry Damayanti Diusulkan Prabowo jadi Gubernur BI Berikutnya
Hubungan RI-AS Berkembang Pesat, Prabowo Terima Wamenhan AS Colby di Istana Merdeka
"Insya Allah Hadir," Jokowi Pastikan Datang ke Sidang Tahunan MPR dan Upacara HUT RI
Sumbang 22 Persen PDB Nasional, Sumut Ajak Provinsi se-Sumatera Perkuat Kolaborasi Ekonomi
Dari Ahli Teknologi hingga Menteri, Prabowo Siapkan Tanda Jasa Jelang HUT ke-81 RI
Nadiem Bantah Rekayasa Transaksi Rp809 Miliar, Klaim Tak Sepeser pun Diterimanya
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru