BREAKING NEWS
Sabtu, 15 Agustus 2026

Membedah Kawan dan Lawan Prabowo dalam Pidato di Sidang MPR 2026

Redaksi - Sabtu, 15 Agustus 2026 10:07 WIB
Membedah Kawan dan Lawan Prabowo dalam Pidato di Sidang MPR 2026
Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Eben E. Siadari

PRABOWO pernah berkata, ia tidak suka membaca pidato resmi. Ia bahkan pernah berkelakar, bukan hanya hadirin yang bosan mendengar teks pidato yang dibacakan.

Ia sendiri pun mengantuk membacanya.

Baca Juga:

Namun, ketika menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026, Prabowo tampaknya memilih tunduk pada teks pidato resmi.

Hampir sepanjang pidato mata Parbowo tidak lepas dari pengial baca (telepromter). Meskipun demikian, tidak sepanjang waktu dia bertahan.

Ada kalanya ia juga melakukan improvisasi. Di sini letak menariknya.

Pidato resmi, seperti pidato kenegaraan di depan Sidang Tahunan MPR selalu memiliki dua wajah.

Wajah pertama adalah naskah resmi yang disusun oleh tim birokrasi. Ia selalu tersusun dengan bahasa diplomatik yang rapi.

Wajah kedua adalah performa sang orator di atas podium.

Prabowo, sebagaimana kebiasaannya, kerap berimprovisasi menekankan hal tertentu dari pidato yang disampaikannya.

Improvisasi itu dimaksudkan memperdalam apa yang dikatakan oleh teks, atau untuk menekankan pentingnya pesan yang disampaikan.

Itu berarti membaca pikiran Prabowo tidak boleh hanya mendasarkan analisis pada lembaran kertas formal atau teks berjalan di alat pengial baca.

Sangat mungkin ruh sesungguhnya dari pidato itu ada pada perkataan lisan yang ia sampaikan tatkala gagasannya melompat keluar dari naskah, melakukan perluasan lisan secara spontan (extension of text).

Dalam teori retorika ini dijelaskan oleh konsep Memoria (ingatan). Memoria adalah satu dari lima pilar retorika.

Kelima pilar itu adalah adalah penemuan ide (Inventio), penyusunan struktur (Dispositio), pemilihan gaya bahasa (Elocutio), menguasai dan mengunci semua materi di otak (Memoria) sebelum akhirnya menjelma menjadi performa panggung (Actio).

Dalam studi komunikasi modern, Memoria bukan lagi sekadar hafalan mati kata demi kata seperti zaman Yunani kuno.

Pilar ini telah berevolusi menjadi penguasaan substansi yang berada di puncak pikiran (top of mind) sang pembicara.

Momen ketika seorang Presiden memilih menepis teks formal dan beralih menggunakan memorinya untuk berimprovisasi di belakang podium sangat mungkin merupakan indikator paling jujur dari ketertarikan isu ideologisnya.

Oleh karena itu penyisiran jeli terhadap bagian-bagian out-of-text menjadi elemen penting untuk bisa memetakan secara presisi pesan pidato yang disampaikan.

Dengan latar belajang ini, saya menggunakan elemen Memoria dari lima pilar retorika untuk memahami pidato Presiden Prabowo.

Untuk itu saya menyisir pidatonya yang disampaikan pada Sidang Tahunan MPR 14 Agustus 2026 dalam dua tahap.

Pertama, mendengarkan tayangan ulang pidato tersebut melalui channel Youtube dan mencatat poin-poin yang ia sampaikan di luar teks resmi.

Kedua, saya membaca teks tertulis pidato tersebut yang saya peroleh dari transkripsi yang ditayangkan oleh Tirto.id.

Catatan-catatan pada tahap pertama saya bandingkan dengan transkripsi pada tahap kedua.

Dari hasil perbandingan itu saya menemukan beberapa hal yang menonjol sebagai elemen memoria Prabowo.

Hal-hal yang menonjol tersebut saya padatkan menjadi dua golongan, yaitu pujian dan kritik maupun sasarannya (lawan dan kawan).

Kriteria pujian yang saya gunakan ialah semua bentuk apresiasi yang diberikan secara lisan kepada pihak-pihak yang dianggap ikut meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sedangkan kritik adalah sebaliknya, yaitu sindiran, teguran, bahkan kecaman kepada pihak-pihak yang dipandang menghambat upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berikut ini adalah hasil analisis terhadap Pidato Presiden Prabowo pada 14 Agustus 2026, menggunakan elemen memoria dari lima pilar retorika.

Pada bagian pertama saya sajikan berupa pujian dan sasaran pujian. Pada bagian kedua kritik dan sasaran kritik.

Pujian Kepada Menteri Pertanian

Dalam pidatonya, Prabowo memberikan pujian yang terkesan sangat royal kepada Menteri Pertanian. Pujian ini berkaitan dengan urusan swasembada pangan.

Prabowo menganggap sangat penting urusan ini. Meskipun dalam teks resmi pidatonya hal itu telah disebut, ia juga menekankannya di luar teks.

Begini kata Prabowo: "Di tengah dunia yang sangat khawatir terhadap kelaparan massal akibat kesulitan pangan dan cuaca yang tidak menentu, kita alhamdulillah, dapat saya laporkan di majelis ini, soal makanan di Indonesia, kita aman, dan akan mampu menghadapi tantangan, terhadap tantangan el nino, yang paling dahsyat tahun ini."

Prabowo mengakui, masih ada beberapa komoditas yang belum mencapai swasembada, seperti daging.

Namun untuk komoditas lain, Indonesia sudah dapat memenuhi kebutuhannya. Dan ini bagi Prabowo sangat penting.

Lalu ia menyebut Menteri Pertanian beserta jajarannya sebagai pihak yang layak mendapat apresiasi.

".….Menteri Pertanian, Para penyuluh pertanian, didukung oleh banyak kementerian lain, didukung oleh Pemda, TNI dan Polri, semuanya ini dengan semangat gotong royong kita sudah mencapai suatu prestasi yang diakui dunia."

Bagi Prabowo, obsesi terhadap ketahanan pangan bukan sekadar urusan domestik, melainkan benteng pertahanan di tengah badai geopolitik global.

Memori kognitifnya dengan cepat menghubungkan draf laporan satu tahun swasembada delapan komoditas pangan dengan realitas ancaman perang terbuka di Eropa dan Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok dunia.

Letupan out-of-text di bagian awal ini membuktikan bahwa pangan adalah wilayah paling sensitif dalam ingatan ideologisnya.

Ia menekankan dalil yang telah ia katakan berulang-ulang bahwa tidak ada negara yang bisa menjaga kedaulatan politik luar negerinya jika perut rakyatnya masih bergantung pada belas kasihan impor bangsa lain.

Pujian Kepada Danantara

Kluster kedua yang menjadi sasaran apresiasi Presiden Prabowo adalah kluster tata kelola korporasi negara.

Di pidato tertulisnya, ia menjelaskan bahwa upaya perbaikan pengelolaan BUMN telah berhasil meningkatkan keuntungan BUMN menjadi Rp 326 triliun pada 2025, naik 75,3 persen dibanding 2024.

Dividen BUMN yang disetorkan tahun 2025 mencapai Rp 142,3 triliun, naik 67 persen dari tahun 2024.

"Dividen BUMN di tahun 2026 ini diproyeksikan kembali naik sampai dengan 200 triliun, tanpa ada PMN. Artinya, dari 2024 ke 2026, naik dari 53 triliun Rupiah ke 200 triliun Rupiah, atau bisa dikatakan 4x lebih besa," kata Prabowo membaca teks pidato resmi.

Lalu memorianya bekerja, dan ia mengalihkan pembicaraannya untuk membawa hadirin mengarahkan perthatian kepada para pemimpin Danantara.

Dalam hemat Prabowo, hasil yang dicapai BUMN terwujud berkat kerja keras Danantara. Danantara, di mata Prabowo, telah bekerja dengan baik.

"Ini membuktikan dengan manajemen yang akal sehat, dengan niat tidak menipu, keberhasilan kita bisa datang dengan cepat. Sekali lagi saya apresiasi manajemen dan pimpinan Danantara. Saya kira Danantara pantas mendapat kehormatan, di hari kemerdekaan ini. Apakah Majelis menyetujui? Pantas tidak?" kata Prabowo, di luar teks resmi.

Apresiasi lisan lain yang juga disampaikan oleh Prabowo ialah kepada Tim Ekonomi dalam kabinet, mencakup Menko Perekonomian, dan terutam Menteri Keuangan, Purbaya Yudha Sadewa.

"Kalau Menteri keuangan senyum, saya merasa aman." Sekali lagi, ini diucapkan di luar teks resmi.

Pujian kepada Rakyat Kecil

Energi retorika yang paling hangat dan emosional Prabowo memuncak ketika memori sang Presiden bersinggungan dengan wajah-wajah rakyat yang termarginalkan.

Ia misalnya, menyapa Bapak John Purnomo, tokoh pengusaha kecil dan petani dari Ngawi yang berhasil melipatgandakan panen dan memangkas biaya berkat reformasi pupuk.

Juga Kristina Beno, anak petani dari Papua Selatan yang kini lebih bugar dan fokus berkat program Makan Bergizi Gratis.

Selanjutnya Muhammad Risky Pratama, anak dari Medan yang sempat putus sekolah karena harus mengayuh sepeda puluhan kilometer memikul beban ikan.

Tidak lupa, dia sapa juga Citra Nur Ramadhani, siswi Sekolah Rakyat (sekolah berasrama untuk keluarga kurang mampu) asal Kabupaten Pangkajene, Sulawesi Selatan.

Citra merupakan atlet karate cilik yang sempat hampir putus sekolah karena harus membantu ibunya yang penyandang disabilitas berjualan kacang.

Di sini Prabowo tampaknya ingin menunjukkan, ingatannya tidak hanya diisi oleh angka statistik ekonomi yang dingin, melainkan oleh detail wajah dan kisah perjuangan hidup mereka.

Melalui perluasan lisan spontan (extension of text) saat memanggil nama-nama ini, Prabowo menjadikan mereka lambang hidup dari keberhasilan intervensi negara.

Lalu Siapa yang jadi sasaran kritik bahkan murka Prabowo?

Kecaman kepada Birokrasi yang Berbelit-belit

Birokrasi yang berbelit-belit menjadi sasaran murkanya dalam pidatonya.

Di sini Memoria ideologisnya meledak di luar teks resmi.

Ketika draf pidato menyentuh urusan regulasi pupuk yang sempat mengunci nasib petani, ingatan sang Presiden langsung tertuju pada ribuan meja perizinan kaku yang selama puluhan tahun menyengsarakan rakyat kecil.

Melalui interupsi lisan yang penuh kegeraman, Prabowo menegaskan, negara didirikan untuk memudahkan rakyat, bukan mempersulitnya.

Kalimat tertulis yang normatif diubahnya menjadi teguran keras bahwa birokrasi tidak boleh menjadi benteng yang menghambat keputusan baik.

"Kita harus mengakui bahwa masalah yang berat adalah yang peraturan yang berbelit-belit. Para birokrat yang menggunakan wewenangnya untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Ini harus kita berantas….. Birokrasi yang korup akan menghancurkan bagsa. Negara harus memudahkan rakyat. Bukan mempersulit."

"Dan kalau saya bicara, saya tidak hanya bicara pemerintah pusat, saya bicara pemerintah daerah. Provinsi dan kabupaten. Tanya rakyat, dengarkan suara raykat, mereka yang pertama yang menyampaikan, bahwa sering program-program tidak sampai ke rakyat," kata Prabowo di luar teks.

Letupan amarah dari memoria Prabowo juga terarah pada Badan Usaha Milik Negara.

Nada suara Prabowo meninggi ketika membacakan inefisiensi di BUMN dalam teks pidato resmi.

Menurut dia, BUMN beserta anak cucunya saat ini ada 1.074. Itu terlalu banyak dan karena itu jumlahnya akan dibabat hingga hanya 300.

Sesungguhnya dalam teks pidato resmi, bahasa yang sangat keras telah dipakai, ketika menyebut bahwa "BUMN bukan milik komisaris, bukan milik direksi, dan bukan pula sumber dana bagi penguasa."

Namun, hal itu semakin dipertajam melalui pilar Memoria ideologisnya. Dalam pidato di luar teks, ia mengatakan bahwa banyak BUMN bekerja seenaknya.

".…BUMN-BUMN ini, kadang-kadang, bekerja seenaknya. Tidak bertanggung jawab kepada bangsa dan negara. Pemerintah tidak dianggap. Saya tidak paham, bagaimana terjadi seperti ini." Menurut dia, BUMN tidak jujur.

"Rugi terus, ngarang saja untungnya itu."

Lebih jauh, ia mengungkapkan gagasannya untuk membentuk pengadilan adhoc untuk mengusut direksi BUMN yang menjabat 30 tahun belakangan.

"Bila perlu kita juga buka peluang semacam amnesti kepada mereka yang tobat, sadar, mereka yang mengakui."

Sindiran terhadap Aparat Negara

Sasaran kemarahan Prabowo yang juga tidak kalah berat ialah aparat yang membiarkan penambangan ilegal di Bangka Belitung.

Saat ia membacakan teks formal keberhasilan penutupan 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung yang mendongkrak laba PT Timah, tampaknya ingatan sang Presiden langsung menolak narasi pembiaran yang biasa-biasa saja.

Ia menginterupsi sendiri pidato tertulisnya dengan menambahkan pertanyaan retoris, bagaimana mungkin penambangan ilegal sebanyak 1000 tambang bisa berlangsung tanpa diketahui aparat.

Selanjutnya ia menancapkan perintah dengan sindiran.

"Saya minta TNI usut. Masa Polri dan TNI tidak tahu ada tambang ilegal. Kapolri dan TNI. Untuk apa negara kasih pangkat, kalau mereka tidak bisa tertibkan ini. Saya bicara atas nama rakyat Indonesia. Ini wakil-wakil rakyat semua di sini. Pemimpin yang baik adalah yang berani menertibkan anak buahnya sendiri."

Seluruh rangkaian kegeraman sistemik itu akhirnya bermuara pada satu letupan out-of-text yang menjadi puncak tertinggi dari amarah retoris sang presiden.

Ketika Memoria Prabowo memproses isu korupsi pada program andalannya, Makan Bergizi Gratis, tampaknya di sinilah letak batas kompromi moral terendah sang Presiden.

Kata "biadab" meluncur bebas dari podium, sebuah diksi ekstrem yang mustahil lolos dari sensor draf tertulis birokrasi kepresidenan.

Prabowo bukan tak memperhitungkan risiko bagi dirinya sendiri mengatakan hal ini. Ia mengatakan terpaksa kehilangan orang-orang dekatnya.

Namun, itu merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin.

"Kadang-kadang kita sedih, anak buah yang kita sayang, yang baru kita beri pangkat, tetapi demi negara dan bangsa harus kita lakukan (pemberhentian). Saya sadar, saya disumpah di sini, saya tidak diizninkan menggunakan perasaan saya menentukan kebijakan. Saya harus medasarkan pada kepentingan rakkyat Indonesia."

Analisis ini menegaskan bahwa untuk memahami esensi kepemimpinan, kita harus belajar mendengarkan bukan hanya dari apa yang disampaikan dalam pidato tertulis tetapi juga yang tidak tertulis.

Melalui pendekatan Memoria, kita melihat bahwa di balik teks formal laporan birokrasi, ada memori seorang pemimpin yang sedang bertarung.

Di satu sisi ada memori yang sangat hangat dan apresiatif terhadap para eksekutor ekonomi yang bersih, namun di saat yang sama, menjadi memori yang sangat dingin dan tega, bagi siapa pun yang menghianati kepercayaan.* (nasional.kompas.com)


*) Penulis adalahAssociate Editor pada sebuah penerbitan di Jakarta

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Harga Cabai dan Ayam Naik Hari Ini, Bawang hingga Daging Sapi Justru Turun
IHSG Merah Pekan Ini! Kapitalisasi Pasar BEI Justru Tembus Rp11.243 Triliun, Ini 10 Saham Paling Anjlok
BUMN Bermasalah 30 Tahun Terakhir, Prabowo Wacanakan Pengadilan Ad Hoc untuk Usut Direksi
Prabowo Minta Pemda Pangkas Anggaran Seremoni: Lebih Baik untuk Sekolah, Rumah Sakit dan Gaji Guru
Prabowo Bentuk PFII, Jakarta dan Bali Disiapkan Jadi Pusat Keuangan Internasional
Semarak Kemerdekaan di Medan, Wali Kota Rico Waas Turun ke Jalan Bagikan Bendera Merah Putih kepada Pengendara
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru