BREAKING NEWS
Jumat, 11 September 2026

Mengarsiteki Kedaulatan Finansial Gen Z: Membedah Ilusi Inklusi dalam Kebijakan Rekening Otomatis

Redaksi - Jumat, 11 September 2026 12:22 WIB
Mengarsiteki Kedaulatan Finansial Gen Z: Membedah Ilusi Inklusi dalam Kebijakan Rekening Otomatis
Shohibul Anshor Siregar, dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Shohibul Anshor Siregar

RENCANA revolusioner pemerintah Indonesia untuk mengintegrasikan penerbitan Kartu Tanda Penduduk dengan pembukaan rekening perbankan secara otomatis bagi setiap warga negara yang menginjak usia tujuh belas tahun menandai babak baru dalam sejarah inklusi keuangan nasional.

Kebijakan ambisius yang digulirkan bersama suntikan saldo awal sebesar lima puluh ribu rupiah per kepala melalui jaringan Bank Himbara ini sekilas tampak seperti karpet merah menuju digitalisasi massal.

Baca Juga:

Langkah intervensi pasar yang dirancang untuk menyongsong Visi Indonesia Emas 2045 tersebut berpotensi mempercepat lahirnya masyarakat nirkasur serta menyederhanakan birokrasi penyaluran jaring pengaman sosial di masa depan.

Namun, jika dibedah secara radikal melalui kacamata realitas siber dan disparitas infrastruktur daerah, khususnya di wilayah Sumatera Utara, kebijakan ini justru berisiko melahirkan paradoks pembangunan yang mendalam.

Dari perspektif kompetisi industri, penunjukan eksklusif terhadap bank milik negara seperti Bank Rakyat Indonesia dan Bank Syariah Indonesia secara otomatis menciptakan ketimpangan struktural dalam ekosistem perbankan komersial.

Ketika bank swasta dan bank digital harus berdarah-darah mengalokasikan biaya pemasaran yang masif demi menggaet segmen pemula, Himbara justru mendapatkan limpahan jutaan nasabah baru setiap tahunnya secara cuma-cuma dari data pencatatan sipil negara.

Penguasaan dana murah jangka panjang ini memang akan memperkuat likuiditas perbankan pelat merah, namun di sisi lain berpotensi mematikan inovasi dan memarginalisasi institusi keuangan swasta yang selama ini menjadi motor penggerak kelenturan ekonomi digital.

Lebih jauh lagi, ancaman terbesar dari integrasi massal data kependudukan dengan sistem transaksi komersial ini terletak pada rentannya pertahanan siber dan minimnya literasi digital para nasabah belia.

Menghubungkan nomor induk kependudukan secara langsung ke dalam pipa perbankan memperluas wilayah serangan bagi para peretas yang mengincar data pribadi warga.

Tanpa adanya pengawasan berlapis dan kecerdasan buatan yang mampu mendeteksi anomali transaksi sejak dini, jutaan rekening baru milik remaja ini rawan menjadi komoditas gelap.

Kelompok usia tujuh belas tahun yang secara psikologis belum matang sangat rentan terjebak manipulasi sosial, sehingga rekening instan mereka berisiko tinggi diperjualbelikan kepada sindikat pihak ketiga untuk dijadikan wadah penampungan dana judi online, aktivitas pemancingan data, maupun praktik pencucian uang skala kecil.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
BULOG Medan Gencarkan Gerakan Pangan Murah, Masyarakat Bisa Dapat Beras dan Minyak Harga Terjangkau
Konflik DPRD dan Bupati Tapteng Berakhir, 9 dari 10 Tuntutan Dewan Disepakati
Dinkes Sumut Minta Siswa Teliti Sebelum Konsumsi MBG: Cek Aroma, Warna dan Batas Waktu
DPRD Sumut Beri Waktu 2 Hari untuk Turunkan Harga Ayam, Produsen Terancam Ditindak
Butuh Modal Usaha Rp100 Juta? Ini Simulasi Cicilan KUR BRI 2026, Cicilan hingga 5 Tahun
Pertama Kali Jadi News Anchor, Wali Kota Tanjungbalai Akui Sempat Deg-degan di Studio RRI
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru