Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Ketika kebijakan nasional ini diturunkan ke tingkat lokal di Sumatera Utara, benturan realitas geografis menjadi ujian paling krusial.
Proyeksi perputaran dana stimulus sebesar belasan miliar rupiah per tahun di wilayah ini akan menjadi angka mati yang sia-sia jika pemerintah menutup mata terhadap potret buram infrastruktur digital daerah.
Di balik kemegahan digitalisasi Kota Medan, terdapat ratusan ribu remaja di kawasan perkampungan nelayan pesisir Langkat, Asahan, hingga pedalaman perkebunan kelapa sawit di Labuhanbatu dan Mandailing Natal yang masih terisolasi oleh pekatnya jala area tanpa sinyal.
Memaksakan transaksi berbasis kode respons cepat di wilayah yang untuk mendapatkan kestabilan jaringan seluler saja warganya harus menempuh jarak berkilo-kilometer adalah sebuah kenaifan teknokratis.
Tanpa adanya percepatan pembangunan menara telekomunikasi berbasis komunitas, program ini hanya akan melahirkan diskriminasi akses baru di mana saldo awal tersebut akan segera dikuras habis menjadi uang tunai, lalu rekeningnya ditelantarkan menjadi akun mati yang membebani sistem komputasi bank.
Pada akhirnya, keberhasilan program pembukaan rekening otomatis ini tidak boleh hanya diukur dari angka kuantitatif jumlah akun baru yang berhasil dicetak atau seberapa besar anggaran negara yang berhasil terserap.
Belajar dari kegagalan skema serupa di negara berkembang lainnya, membuka rekening adalah perkara mudah, namun merawat keaktifan dan kegunaan rekening tersebut adalah tantangan yang sesungguhnya.
Pemerintah bersama organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan di Sumatera Utara harus bergerak cepat membangun benteng literasi finansial yang kokoh di tingkat akar rumput.
Kebijakan ini hanya akan menjadi fondasi kedaulatan ekonomi jika negara mampu memastikan bahwa setiap rekening yang terbuka di tangan anak muda adalah alat pembebasan finansial yang aman dan produktif, bukan justru menjadi celah baru bagi eksploitasi kejahatan siber yang merusak masa depan generasi penerus bangsa.*
*) Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.