Janji 19 Juta Lapangan Kerja: Oper Sana, Oper Sini
OlehMuhammad Yazid AlFaizi DALAM sistem demokrasi yang baik, janji kampanye merupakan kontrak sosial sakral antara calon pemimpin dan raky
OPINI
JAKARTA -Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi merespons kabar mengenai pengemasan ulang produk minyak goreng kemasan sederhana MinyaKita. Arief mengonfirmasi bahwa beberapa oknum pedagang memang terlibat dalam praktik ini, yang bertujuan untuk menjual MinyaKita dengan harga lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan pemerintah sebesar Rp 15.700 per liter.
Dalam keterangannya, Arief menekankan bahwa pemerintah telah mengambil langkah tegas dengan menyegel toko pedagang yang menjual MinyaKita dengan harga jauh di atas HET. Tak hanya itu, pengemasan ulang yang dilakukan oleh beberapa oknum untuk menaikkan harga juga menjadi perhatian serius pemerintah.
"Kalau memang kemarin ada penyegelan, ya disegel betul sih ya. Karena dia menjualnya jauh di atas harga yang sudah ada. Bahkan juga ada yang begini. Oknum ya, kita nggak bilang semua. Jadi, minyak itu dengan harga murah itu dia gunting, kemudian di-repacking. Nah, kalau kejadiannya seperti itu, ya mohon maaf, nanti Satgas Pangan itu pasti akan agak represif kalau seperti itu," ujar Arief dalam postingannya di Instagram @badanpangannasional.
Arief juga menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan penelusuran untuk memastikan jalur distribusi MinyaKita yang disalahgunakan oleh pedagang. Pemerintah, menurutnya, akan memeriksa harga MinyaKita di berbagai tingkatan, mulai dari tingkat konsumen, distributor, hingga produsen.
"Tentu kami akan mengecek harga Rp 17.000 yang ada sekarang itu berapa beli di tingkat konsumen, distributor besar (D1), bahkan ke produsen. Proses ini memang membutuhkan waktu dan tenaga, namun kami akan terus memastikan semuanya terpantau dengan baik," lanjut Arief.
Sebagai informasi, praktik pengemasan ulang MinyaKita banyak diperkirakan untuk menyiasati harga yang sudah dibatasi oleh pemerintah. Pedagang yang melakukan pengemasan ulang mengubah harga jual minyak goreng kemasan sederhana tersebut menjadi lebih mahal, dengan tujuan meraih keuntungan lebih besar.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan Budi Santoso juga membenarkan bahwa pengemasan ulang telah menjadi perhatian pemerintah, namun menegaskan bahwa kini pedagang sudah tertib dalam penjualan minyak goreng kemasan sederhana.
"Sekarang sudah tertib, tidak ada lagi yang melakukan hal tersebut. Semua sudah kita tertibkan," ungkap Budi pada 20 Februari 2025.
Namun, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengungkapkan kekhawatirannya terkait praktik ini, di mana pelaku pasar membeli MinyaKita dalam jumlah besar, kemudian mengemas ulang dengan harga lebih tinggi.
(dc/a)
OlehMuhammad Yazid AlFaizi DALAM sistem demokrasi yang baik, janji kampanye merupakan kontrak sosial sakral antara calon pemimpin dan raky
OPINI
OlehAli Lubis.PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah hadir untuk rakyat. Bukan hanya dalam bentuk janj
OPINI
JAKARTA Ayat Kursi merupakan salah satu ayat dalam AlQur&039an yang banyak diamalkan umat Islam. Salah satu keutamaannya adalah menja
AGAMA
DAIRI Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, tidak hanya dikenal sebagai daerah penyangga kawasan Danau Toba, tetapi juga memiliki banyak dest
PARIWISATA
JAKARTA Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Mandiri 2026 kembali menjadi salah satu alternatif pembiayaan bagi pelaku Usaha Mikro, Ke
EKONOMI
BANDUNG Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M. Nasir, S.IP., MPA, menghadiri Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Administrasi Bisnis Ir. H. T
NASIONAL
BALI Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah di Provinsi Bali akan mengalami cuaca cer
NASIONAL
YOGYAKARTA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
NASIONAL
JAWA BARAT Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca di Provinsi Jawa Barat pada Minggu, 28 Juni
NASIONAL
JAKARTA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Daerah Khusus Jakarta berpotensi menga
NASIONAL