BREAKING NEWS
Rabu, 27 Mei 2026

Iskandar Muda Hasibuan: Masalah Pendidikan Indonesia Sesungguhnya Ada di Ruang Kelas, Bukan Ruang Rapat

T.Jamaluddin - Rabu, 27 Mei 2026 10:28 WIB
Iskandar Muda Hasibuan: Masalah Pendidikan Indonesia Sesungguhnya Ada di Ruang Kelas, Bukan Ruang Rapat
Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Dr. Iskandar Muda Hasibuan. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH – Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh, Dr. Iskandar Muda Hasibuan, menilai persoalan utama pendidikan di Indonesia saat ini tidak terletak pada banyaknya kebijakan atau regulasi yang dibuat, melainkan pada kualitas pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas.

Pandangan tersebut disampaikan Iskandar dalam kegiatan konsolidasi Sekolah Muhammadiyah menuju Pusat Keunggulan yang diikuti kepala TK/PAUD, MI, SMP, SMA serta pengurus Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Aceh Tengah dan Bener Meriah di Takengon.

Menurut Iskandar, berbagai diskusi mengenai pendidikan selama ini lebih banyak berfokus pada kurikulum, anggaran, sarana prasarana, hingga perubahan kebijakan.

Baca Juga:

Padahal, kata dia, inti dari seluruh proses pendidikan sesungguhnya berada pada interaksi antara guru dan peserta didik di dalam kelas.

"Masalah pendidikan kita sesungguhnya berada di ruang kelas, bukan di ruang rapat. Pendidikan hidup atau mati di sana. Mutu pendidikan lahir dari kualitas pembelajaran yang berlangsung setiap hari antara guru dan murid," ujar Iskandar dalam keterangannya di Banda Aceh, Rabu (27/5/2026).

Ia menjelaskan, berbagai penelitian pendidikan internasional menunjukkan bahwa faktor paling berpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah kualitas pengajaran yang diberikan guru di ruang kelas.

Karena itu, sekolah yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh megahnya bangunan atau lengkapnya fasilitas, melainkan oleh pengalaman belajar yang diperoleh siswa setiap hari.

Menurut Iskandar, tantangan pendidikan saat ini bukan lagi semata soal akses, melainkan bagaimana menghadirkan pembelajaran yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Ia menyoroti masih adanya praktik pembelajaran yang terlalu berpusat pada guru, minim dialog, serta lebih menekankan hafalan dibandingkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

"Masih banyak ruang kelas yang kurang memberi ruang bagi peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, mengeksplorasi gagasan, dan membangun pemahaman secara aktif. Padahal, ruang kelas harus menjadi laboratorium kehidupan tempat karakter, kreativitas, dan nalar dikembangkan," katanya.

Iskandar menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis sebagai penggerak proses pembelajaran.

Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi inspirator yang membangun budaya belajar dan menumbuhkan semangat siswa untuk berkembang.

Karena itu, ia mendorong agar reformasi pendidikan diarahkan pada peningkatan kualitas pembelajaran melalui penguatan kompetensi pedagogik guru, supervisi akademik yang efektif, serta pengembangan komunitas belajar di lingkungan sekolah.

Selain itu, Iskandar mengingatkan agar ukuran keberhasilan pendidikan tidak hanya didasarkan pada capaian administratif seperti akreditasi atau angka kelulusan.

Menurutnya, indikator yang lebih penting adalah sejauh mana peserta didik benar-benar mengalami proses belajar yang bermakna.

"Pertanyaan yang harus kita jawab adalah apakah anak-anak benar-benar belajar dengan baik di kelas, apakah mereka merasa aman, dihargai, tertantang untuk berpikir, dan mendapatkan pendampingan yang memadai dari gurunya," ujarnya.

Ia meyakini perubahan besar dalam dunia pendidikan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana di ruang kelas.

Sebuah kelas yang hidup, guru yang reflektif, dan sekolah yang fokus pada mutu pembelajaran dapat menjadi titik awal transformasi pendidikan yang lebih luas.

"Jika ruang kelas berubah, sekolah akan berubah. Jika sekolah berubah, maka pendidikan juga akan berubah. Masa depan pendidikan kita pada akhirnya ditentukan di ruang kelas, bukan di ruang rapat," kata Iskandar.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa perbaikan pendidikan tidak hanya membutuhkan kebijakan yang baik, tetapi juga komitmen untuk memastikan proses belajar mengajar berlangsung efektif, berkualitas, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.*


(ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kurban Wujud Nyata Filantropi Islam dan Kepedulian Sosial
Ibadah Haji dan Kurban Adalah Ibadah Istimewa, Khatib Iduladha Muhammadiyah Aceh Ajak Umat Teladani Kesabaran Nabi Ibrahim
Ribuan Warga Padati Pusat Kota, Dirlantas Polda Aceh Hadiri Gema Takbiran Idul Adha di Masjid Raya Baiturrahman
Meriah! Sekda Aceh Lepas Pawai Takbir Keliling Idul Adha 1447 H di Banda Aceh
Dayah Wakaf Barbate Terima Sapi Kurban dari PT Bintang Toejoeh, Dukung Program CSR di Aceh Besar
Safari Dakwah Iduladha, Ustaz Bachtiar Nasir Tebar Ribuan Hewan Kurban dari NTT hingga Aceh
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru