Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Guru tidak hanya berdiri di depan kelas untuk memberikan arahan, tetapi mulai membangun kedekatan dengan siswa sejak mereka tiba di sekolah.
Sapaan hangat, senyuman, hingga interaksi sederhana seperti tos tangan menjadi cara untuk menciptakan suasana sekolah yang lebih ramah dan membuat siswa merasa diterima.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena sebagian anak datang ke sekolah dengan rasa minder akibat keterbatasan ekonomi maupun lingkungan tempat tinggal.
Selain itu, kreativitas siswa juga dikembangkan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka, seperti daun kering dan batu kecil.
Melalui kegiatan sederhana tersebut, siswa diajak membuat "Pohon Harapan" sebagai simbol mimpi dan cita-cita yang ingin mereka raih.
Metode ini mengajarkan bahwa masa depan seseorang tidak ditentukan oleh kondisi saat ini, melainkan oleh proses, kerja keras, dan kemauan untuk terus berkembang.
Iskandar mengatakan, tugas pendidik pada hari pertama sekolah bukan hanya memberikan materi pelajaran, tetapi juga membangun hubungan emosional antara guru dan murid.
"Tugas utama kita sebagai pendidik di hari pertama ini bukanlah langsung menjejali mereka dengan rumus atau angka, melainkan membangun sebuah 'rumah aman' secara psikologis. Kita ingin setiap anak merasakan bahwa mereka memiliki suara, kompeten, dan berharga apa adanya," lanjutnya.
Menurutnya, ketika anak merasa aman dan dihargai, proses menerima ilmu pengetahuan akan berjalan lebih efektif.
Sekolah juga mulai menerapkan konsep aturan kelas yang dibuat bersama antara guru dan siswa.
Dengan cara tersebut, anak tidak hanya menjadi penerima aturan, tetapi ikut memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan belajarnya.
Sebagai bagian dari pembentukan karakter, sejumlah sekolah menutup kegiatan hari pertama dengan tradisi membuat "Tabung Waktu".
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.