Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Namun, persoalan muncul ketika sistem tersebut diterapkan dalam menentukan penerima KIP Kuliah.
Ia menilai keluarga dengan penghasilan sekitar Rp5 juta per bulan belum tentu mampu membiayai anak hingga perguruan tinggi.
Sebab, kebutuhan mahasiswa tidak hanya berupa biaya pendidikan, tetapi juga transportasi, tempat tinggal, makan, dan kebutuhan lainnya.
"Banyak anak-anak miskin yang penghasilan orang tuanya Rp5 juta, mana mungkin dia bisa menguliahkan anak-anaknya," katanya.
Menurut Sofyan, kondisi tersebut dapat menyebabkan calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu tidak memperoleh bantuan KIP Kuliah karena tidak masuk dalam kelompok desil yang ditetapkan.
Ia menyebut pada periode penerimaan perguruan tinggi negeri terdapat hampir 260 ribu mahasiswa yang tidak lolos dalam skema tersebut.
Selain itu, masih terdapat calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi swasta.
Di sisi lain, pemerintah disebut menyiapkan sekitar 200 ribu penerima baru KIP Kuliah.
Sofyan menilai jumlah tersebut perlu dibandingkan dengan besarnya jumlah masyarakat miskin yang membutuhkan akses pendidikan tinggi.
Sofyan mengatakan pemerintah perlu mempertimbangkan penambahan alokasi beasiswa pendidikan tinggi bagi masyarakat miskin.
Ia memperkirakan penambahan satu juta penerima KIP Kuliah membutuhkan anggaran sekitar Rp15 triliun.
Sementara itu, anggaran program yang ada disebut mencapai sekitar Rp16 triliun, termasuk biaya administrasi.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.