Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Di tempat itulah kurikulum bertemu dengan kenyataan, kebijakan bertemu dengan murid, dan visi pendidikan diuji dalam situasi yang berbeda-beda.
Ia mengajak pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan mengubah ukuran keberhasilan reformasi pendidikan.
"Jangan hanya bertanya, berapa banyak guru yang sudah dilatih? Tanyakan, berapa banyak guru yang sekarang mampu belajar tanpa harus selalu dilatih?"
Ia juga mengajak agar keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah kebijakan yang diluncurkan.
"Tanyakan, berapa banyak praktik pembelajaran yang benar-benar berubah?"
Menurut Iskandar, pendidikan yang kuat bukan pendidikan yang memiliki paling banyak program.
Pendidikan yang kuat adalah pendidikan yang memiliki manusia yang mampu terus belajar setelah sebuah program berakhir.
"Sebab pendidikan yang kuat bukanlah pendidikan yang paling banyak memiliki program. Pendidikan yang kuat adalah pendidikan yang memiliki manusia-manusia yang mampu terus belajar ketika program telah selesai."
Iskandar mengatakan investasi pendidikan Indonesia untuk masa depan seharusnya tidak berhenti pada peningkatan jumlah guru yang mengikuti pembelajaran profesional.
Yang lebih penting adalah membangun sistem yang membuat guru tidak berhenti menjadi pembelajar profesional.
Ia menyebut perubahan paradigma tersebut dapat dimulai dari guru yang dilatih menuju guru yang belajar, dari guru sebagai penerima kebijakan menjadi pelaku perubahan, serta dari budaya menunggu program menuju budaya memperbaiki praktik.
"Sebab guru yang terus bertumbuh akan melahirkan murid yang terus bertumbuh. Murid yang terus bertumbuh akan melahirkan masyarakat yang terus bertumbuh."
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.