Jalur Lintas Sicincin-Bukittinggi terputus total akibat longsor dan pohon tumbang di beberapa titik, terutama di Malalak, Agam, Sumatera Barat, Selasa, 25 November 2025. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari setelah laporan kerusakan dan jumlah wilayah terdampak terus bertambah.
Juru Bicara BPBD Sumbar, Ilham Wahab, mengatakan hingga Rabu, 26 November 2025, tercatat 13 kabupaten dan kota terdampak banjir dan longsor.
"Sementara sesuai laporan ada 13 daerah yang terdampak. Kerugian sementara sekitar Rp 4,9 miliar. Tapi data masih terus bergerak karena tim masih berada di lapangan," ujar Ilham.
Adapun daerah yang terdampak meliputi Padang Pariaman, Kota Padang, Tanah Datar, Agam, Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kota Pariaman, Pasaman Barat, Kota Bukittinggi, Kota Solok, Padang Panjang, Limapuluh Kota, dan Pasaman.
Padang Pariaman menjadi daerah terparah terdampak banjir.
Sebanyak 42 nagari di 17 kecamatan terendam dan dua jembatan dilaporkan rusak.
Sementara di Kabupaten Agam, longsor menggerus 171 meter badan jalan serta memutus akses air bersih.
Kota Padang juga mengalami dampak signifikan. Banjir dilaporkan terjadi di 17 kelurahan pada tujuh kecamatan.
Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, mengatakan status tanggap darurat ditetapkan untuk mempercepat penanganan di lapangan.
"Sudah kita tetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari, terhitung kemarin hingga 8 Desember," ujarnya.
Penetapan dilakukan melalui SK Gubernur Nomor 360-761-2025 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Alam Banjir, Banjir Bandang, Tanah Longsor, dan Angin Kencang.
Arry menegaskan, luasnya wilayah terdampak menjadi dasar kuat bagi Pemprov untuk menetapkan status di tingkat provinsi.
"Keputusan ini juga dapat diperpanjang sesuai kebutuhan penanganan darurat di lapangan," katanya.*