Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
BLITAR — Aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa Cipayung Plus Blitar Raya di depan Kantor DPRD Kabupaten Blitar, Kamis (25/6/2026), berlangsung ricuh.
Ketegangan terjadi setelah seorang mahasiswa diduga diamankan aparat kepolisian saat aksi penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berlangsung.
Mahasiswa yang diamankan diketahui bernama Wisnu Eka.
Baca Juga:
Ia diduga dibawa masuk ke area Kantor DPRD Kabupaten Blitar setelah mengambil tabung alat pemadam api yang digunakan polisi untuk memadamkan ban yang dibakar massa aksi.
Tindakan aparat tersebut langsung memicu reaksi peserta demonstrasi.
Puluhan mahasiswa bergerak mendekati pintu gerbang Kantor DPRD yang dijaga aparat keamanan.
Aksi saling dorong pun sempat terjadi ketika massa menuntut rekannya segera dibebaskan.
"Saya minta sekarang juga lepaskan teman kami," teriak salah seorang orator melalui pengeras suara.
Tuntutan pembebasan mahasiswa yang diamankan terus disuarakan berulang kali oleh massa aksi.
Situasi semakin memanas ketika sejumlah mahasiswa mencoba merangsek ke arah gerbang kantor DPRD.
Koordinator aksi, Santa Febriana, kemudian mengambil alih pengeras suara dan meminta peserta demonstrasi untuk menahan diri serta tidak memaksakan masuk ke area gedung dewan.
Meski demikian, imbauan tersebut tidak langsung diindahkan.
Ketegangan berlangsung selama beberapa menit sebelum akhirnya mereda setelah Wisnu Eka dilepaskan oleh pihak kepolisian.
Setelah situasi kembali kondusif, Ketua DPRD Kabupaten Blitar Supriadi menemui para mahasiswa yang masih bertahan di luar kompleks kantor DPRD.
Namun kehadiran Supriadi tanpa didampingi pimpinan DPRD lainnya memunculkan kekecewaan dari peserta aksi.
"Sekali lagi saya mohon maaf jika saya hanya bisa seorang diri menyambut adik-adik mahasiswa. Pimpinan lainnya memang sedang tidak bisa hadir. Tadi rapat paripurna juga saya sendiri yang memimpin," kata Supriadi di hadapan massa.
Dalam kesempatan itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah.
Melalui koordinator aksi Santa Febriana, mereka meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap sejumlah kebijakan nasional yang dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat.
Sebanyak 11 tuntutan disampaikan dalam aksi tersebut, mulai dari stabilisasi harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak, evaluasi program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Merah Putih, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik, hingga pengesahan RUU Perampasan Aset.
Mahasiswa juga mendesak penguatan kembali fungsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), penghentian kriminalisasi terhadap aktivis, penegakan hukum lingkungan, pencopotan pejabat yang dianggap tidak kompeten, serta penegakan etika politik nasional.
Aksi yang berlangsung beberapa jam itu akhirnya berakhir setelah seluruh tuntutan dibacakan.
Massa membubarkan diri secara tertib dengan pengawalan aparat keamanan.* (km/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.