Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Menurut Rinto, kondisi tersebut membuat para penumpang sempat berebut pelampung. Kepanikan terjadi ketika penumpang saling berdesakan dan mendorong untuk mendapatkan alat keselamatan.
"Iya, rebutan," ujar Rinto.
"Panikan, Pak, semuanya, Pak. Ada yang ke meja, ada yang mendorong kayak gitu, Pak," sambungnya.
Rinto mengatakan situasi berubah sangat cepat. Sekitar dua menit setelah kapal mulai oleng, kondisi di atas kapal disebut sudah berubah menjadi kepanikan.
Setelah berhasil keluar dari kapal, Rinto bersama sejumlah korban lainnya masih harus bertahan di tengah laut. Dia menyebut sekitar 11 orang berada bersamanya sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan.
Para korban disebut terombang-ambing selama kurang lebih empat jam hingga diselamatkan kapal pengangkut batu bara.
"Kami terombang-ambing sekitar 4 jam. Kami ada 11 orang di atas itu, Bang," kata Rinto.
Dalam proses penyelamatan tersebut, sejumlah barang milik Rinto ikut hilang, termasuk dompet, pakaian, dan ijazah yang dibawanya untuk keperluan perjalanan.
"Saya enggak menyelamatkan cuma itu saja, Pak. Dompet itu juga hilang semua, Pak. Seperti ijazah itu hilang, Pak. Baju-baju semua," ujarnya.
Rinto diketahui sedang dalam perjalanan menuju Banjarmasin untuk memenuhi panggilan kerja. Dia mengaku baru pertama kali hendak berangkat ke Banjarmasin setelah mengikuti proses perekrutan melalui sebuah agensi di Semarang.
"Panggilan kerja, Pak. Interview kami, Pak. Iya, sudah tanda tangan kontrak dari pihak agensi di Semarang, Pak. Terus kami dipanggil untuk menemui perusahaan itu di sini," jelasnya.
Rinto yang berasal dari Betung, Banyuasin, Sumatera Selatan, berharap pihak yang terlibat dalam proses perekrutan maupun perusahaan tujuan kerja ikut bertanggung jawab atas musibah tersebut.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.