Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN — Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas meminta kasus dugaan keracunan setelah belasan siswa menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 060870, Kecamatan Medan Timur, tidak terulang.
Ia berharap program MBG tetap berjalan dengan pengawasan yang lebih ketat agar tujuan meningkatkan gizi anak dapat tercapai.
Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan di sekolah.
Baca Juga:
"Intinya, ya, bagi kami anak-anak bisa segera pulih, namun kami mengharapkan jangan sampai terjadi kembali," kata Rico saat ditanyai wartawan usai rapat paripurna di gedung DPRD Medan, Senin (12/10/2026).
Rico mengatakan Pemerintah Kota Medan memahami kekhawatiran orang tua dan masyarakat atas kejadian tersebut.
Karena itu, ia meminta pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG ditingkatkan, terutama oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab dalam penyediaan makanan.
Menurut Rico, program MBG diharapkan dapat membantu memperbaiki asupan gizi anak-anak.
Namun, pelaksanaannya juga harus memperhatikan keamanan dan kualitas makanan yang diberikan kepada para siswa.
"Sekolahnya juga kita harap makin baik, dan harapan kita supaya anak-anak bertumbuh lebih baik kedepan," tambah Rico.
Sebagai tindak lanjut atas kejadian tersebut, SPPG yang memasok makanan ke SD Negeri 060870 Medan ditutup sementara.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sumatera Utara, Yoga Arizanto, membenarkan penutupan tersebut pada Jumat, 9 Oktober 2026.
"Sudah (SPPG ditutup)," kata Yoga.
Penutupan sementara itu dilakukan setelah sejumlah siswa mengalami keluhan kesehatan seusai menyantap menu MBG.
Meski demikian, penyebab pasti keluhan yang dialami para siswa perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut.
Berdasarkan laporan pada Jumat, sebanyak 17 siswa mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.
Gejala yang dilaporkan meliputi mual, muntah, pusing, dan sakit perut.
Dari jumlah tersebut, 11 siswa dilaporkan membaik setelah mendapat penanganan medis dan diperbolehkan pulang.
Sementara enam siswa lainnya masih menjalani observasi medis di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia.
Penanganan medis dilakukan untuk memantau kondisi para siswa setelah munculnya keluhan tersebut.
Informasi mengenai perkembangan kondisi mereka perlu diperbarui berdasarkan keterangan terbaru dari pihak rumah sakit atau instansi terkait.
Kasus ini menjadi perhatian terhadap pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan program MBG, mulai dari proses pengolahan hingga makanan diterima dan dikonsumsi siswa.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan memastikan standar keamanan pangan diterapkan dengan baik agar program pemenuhan gizi bagi anak sekolah dapat berjalan sesuai tujuan tanpa mengabaikan keselamatan penerima manfaat.* (km/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.