"Karena sistemnya tinggi, kami manfaatkan pompa dan tandon di atas. Setelah itu air turun alami dengan gravitasi," jelas Nova.
Aktivitas panen dan penanaman di ketinggian 18 meter dilakukan menggunakan carlift, atau lift barang khusus yang dirancang untuk mengangkut hasil panen dan perlengkapan.
Saat ini Ladang Farm menanam lima jenis tanaman utama: Thai basil, Italian basil, perilla (shiso), mint, dan selada. Dari kelima varietas tersebut, Thai basil menjadi komoditas unggulan dan paling diminati restoran-restoran Thailand di kawasan Jabodetabek.
"Kami menjadi pemasok utama restoran Thailand di BSD, Kemayoran, Menteng, hingga Bekasi. Kapasitas produksi kami mencapai dua ton sayuran segar setiap bulan," tutur Nova.
Sistem panen dilakukan setiap hari, menyesuaikan kebutuhan restoran pelanggan agar produk selalu segar saat dikirim.
Selain berorientasi bisnis, Ladang Farm juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Beberapa ibu rumah tangga di lingkungan Cilandak kini menjadi tenaga bantu dalam kegiatan produksi harian.
"Kami memberdayakan masyarakat sekitar, terutama ibu-ibu. Selain itu, kami juga membuka program edukasi agar masyarakat bisa belajar membuat sistem hidroponik sederhana di rumah," jelas Nova.
Ia berharap konsep urban farming dapat mendorong ketahanan pangan lokal, khususnya di kawasan perkotaan yang minim lahan.
Meski sukses menjadi pionir, Ladang Farm menghadapi tantangan besar dari sisi biaya energi. Lampu pertumbuhan (grow light) untuk tanaman seperti selada membutuhkan daya listrik cukup tinggi.
"Tantangan terbesar kami saat ini adalah biaya listrik. Tapi kami sudah hitung dan siapkan solusi efisiensi," ujar Nova.
Ke depan, Ladang Farm berencana memperluas sistem pertanian vertikal ini ke kota-kota besar lain di Indonesia. Tujuannya, menghadirkan pertanian bersih, tanpa pestisida, di tengah kawasan urban yang kian padat.
"Kami ingin membawa konsep vertical farming ini ke kota lain. Ladang Farm akan terus identik dengan pertanian sehat, modern, dan ramah lingkungan," pungkas Nova.*