BREAKING NEWS
Kamis, 12 Maret 2026

Mentan Amran Beli Alat Panjat Kelapa Inovasi ITS, Tak Lagi Gunakan Monyet

Dharma - Kamis, 12 Maret 2026 11:56 WIB
Mentan Amran Beli Alat Panjat Kelapa Inovasi ITS, Tak Lagi Gunakan Monyet
Monyet pemetik kelapa. (foto: Getty Images/BBC)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah mulai memanfaatkan berbagai inovasi teknologi dari perguruan tinggi untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

Salah satu yang akan diuji coba adalah alat panjat kelapa hasil pengembangan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Amran mengatakan Kementerian Pertanian telah memesan 10 unit alat tersebut untuk tahap uji coba.

Baca Juga:

Teknologi ini diharapkan menggantikan metode tradisional yang selama ini masih digunakan, termasuk pemanfaatan hewan untuk memetik kelapa.

"Ada alat panjat, jadi tidak menggunakan lagi monyet, tapi ada alat baru. Kami langsung minta 10 unit untuk uji coba," kata Amran saat ditemui di kantor Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jakarta, Kamis, 12 Maret 2026.

Menurut Amran, permintaan kelapa di pasar global saat ini meningkat sehingga sektor tersebut membutuhkan dukungan teknologi agar produktivitas petani bisa meningkat.

Ia menambahkan, pekerjaan memanjat pohon kelapa memiliki risiko tinggi bagi pekerja. Karena itu, inovasi teknologi dianggap penting untuk meningkatkan keselamatan sekaligus efisiensi kerja.

"Kalau kelapa itu kita naik, belum ada angin. Begitu di atas ada angin. Kita berdoa di atas. Jadi memang berisiko," ujarnya.

Selain alat panjat kelapa dari ITS, Kementan juga membeli empat unit mesin pengering (dryer) jagung portabel hasil inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Amran mengaku sempat mengira teknologi tersebut merupakan produk impor sebelum mengetahui bahwa alat itu dikembangkan oleh peneliti dalam negeri.

Menurut dia, mesin pengering portabel tersebut dapat dibawa langsung ke lokasi pertanian sehingga mempermudah proses pascapanen.

"Ini portable, bisa keliling ke petani-petani, di tengah sawah atau kebun jagung," kata Amran.

Kementan juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi lain. Dari Institut Pertanian Bogor (IPB), pemerintah telah lama membeli bibit unggul jagung dan padi dengan total sekitar 6.000 ton.

Amran bahkan menyatakan kesiapan pemerintah untuk meningkatkan pembelian hingga 600.000 ton jika produksi tersedia dan sesuai kebutuhan.

Selain itu, inovasi dari Universitas Hasanuddin berupa ayam lokal dengan produktivitas tinggi juga tengah dipersiapkan untuk dikembangkan pada tahun depan.

Sementara dari Universitas Andalas, Kementan berencana membeli varietas unggul gambir.

Komoditas tersebut masuk dalam program hilirisasi pemerintah karena memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar internasional.

Amran menegaskan hilirisasi komoditas pertanian menjadi salah satu agenda penting pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

"Seluruh komoditas ini harus dihilirisasi. Nilai tambahnya harus dinikmati di Indonesia," kata dia.*


(km/ad)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
DPR Tetapkan Tiga RUU Jadi Usul Inisiatif, PPRT dan Hak Cipta Jadi Prioritas Tahun Ini
Laporan Mendagri ke Presiden Prabowo Terkait Pemulihan Pascabencana di Sumatera: Pak, Jauh Membaik Pak
Dorong Pemulihan Ekonomi, Pemerintah Siapkan KUR Tanpa Agunan dengan Bunga 0% untuk UMKM Terdampak Bencana di Sumatera
Natalius Pigai: Pers Adalah Pilar Pembangunan HAM
Wali Kota Tanjungbalai Buka Rakor Penyusunan LKPJ Wali Kota Tahun 2025
Wali Kota Mahyaruddin Terima Audiensi PKH Bahas Kolaborasi Pengentasan dan Penurunan Angka Kemiskinan di Kota Tanjungbalai
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru