Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA — Sukun dinilai memiliki potensi besar menjadi salah satu pangan unggulan masa depan Indonesia.
Selain memiliki kandungan gizi yang tinggi, tanaman ini juga dianggap ramah lingkungan dan mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Edi Santosa, mengatakan sukun dapat menjadi alternatif pangan lokal yang strategis di tengah tantangan ketahanan pangan dan ancaman krisis iklim yang semakin meningkat.
Baca Juga:
Menurut Edi, sebuah bahan pangan dapat dikategorikan sebagai superfood apabila memenuhi sejumlah kriteria, mulai dari kandungan nutrisi yang tinggi, memberikan manfaat kesehatan, hingga memiliki sistem budidaya yang berkelanjutan.
"Suatu pangan dapat disebut superfood jika memiliki kandungan nutrisi tinggi tanpa antinutrisi, memberikan manfaat kesehatan, serta dibudidayakan dengan cara yang rendah emisi karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim. Berdasarkan berbagai kajian dan pengamatan di lapangan, sukun memenuhi ketiga kriteria itu," ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Dari sisi nutrisi, sukun memiliki kandungan serat yang cukup tinggi dengan indeks glikemik yang relatif rendah.
Selain itu, buah sukun juga mengandung berbagai zat penting seperti vitamin C, vitamin A, folat, zat besi (Fe), serta seng (Zn).
Kandungan tersebut membuat sukun dinilai memiliki peran dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, termasuk membantu upaya pencegahan masalah kekurangan gizi dan stunting.
Edi menyebut kandungan nutrisi sukun bahkan dinilai lebih baik dibandingkan singkong.
Namun, ia menegaskan bahwa setiap jenis pangan memiliki keunggulan masing-masing dan tidak perlu dibandingkan secara berlebihan.
"Sukun juga memiliki kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan singkong. Namun, setiap bahan pangan memiliki keunggulan masing-masing dan saling melengkapi, jadi tidak perlu dipertentangkan," katanya.
Selain memiliki manfaat dari sisi kesehatan, pohon sukun juga dianggap memiliki keunggulan dalam menghadapi perubahan iklim.
Tanaman sukun mampu tumbuh di berbagai kondisi wilayah, mulai dari daerah dengan curah hujan tinggi hingga kawasan yang lebih kering seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menurut Edi, pohon sukun tidak membutuhkan perawatan yang rumit, tetapi mampu menghasilkan buah hampir sepanjang tahun.
Karakter tersebut menjadikan sukun sebagai tanaman pangan yang berkelanjutan dan memiliki emisi karbon yang relatif rendah.
Kemampuan adaptasi tersebut membuat sukun dinilai berpotensi menjadi salah satu solusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, terutama ketika Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Pengembangan sukun sebagai pangan masa depan juga dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya petani lokal yang mengembangkan komoditas pangan alternatif.
Dengan kandungan gizi tinggi, mudah dibudidayakan, serta mampu bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan, sukun kini mulai mendapat perhatian sebagai salah satu pangan lokal yang berpotensi menjadi unggulan Indonesia.* (mi/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.