BREAKING NEWS
Jumat, 04 September 2026

Erupsi Gunung Sinabung Berdampak ke 1.832 Hektare Lahan Pertanian Karo, Ini Komoditas yang Terdampak

Adelia Syafitri - Jumat, 04 September 2026 18:08 WIB
Erupsi Gunung Sinabung Berdampak ke 1.832 Hektare Lahan Pertanian Karo, Ini Komoditas yang Terdampak
Petani di sekitar Gunung Sinabung. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

KARO Erupsi Gunung Sinabung pada 31 Agustus 2026 berdampak terhadap sektor pertanian di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Abu vulkanik yang menyelimuti sejumlah wilayah membuat ribuan hektare lahan pertanian terdampak.

Berdasarkan laporan Dinas Pertanian Kabupaten Karo, luas lahan pertanian yang terdampak abu vulkanik mencapai 1.832 hektare.

Baca Juga:

Lahan tersebut tersebar di enam kecamatan, yakni Naman Teran, Merdeka, Dolat Rayat, Berastagi, Simpang Empat, dan Barus Jahe.

Namun, sebagian besar tanaman yang sebelumnya terpapar abu vulkanik kini telah kembali pulih.

Dari total lahan terdampak, sekitar 1.677 hektare tanaman telah pulih setelah abu vulkanik tercuci oleh guyuran hujan.

Sementara itu, sebanyak 155 hektare tanaman masih tertutup abu vulkanik. Seluruh lahan yang masih terdampak tersebut berada di Kecamatan Naman Teran.

Dolat Rayat menjadi kecamatan dengan luas tanaman terdampak paling besar, yakni 725 hektare.

Berikutnya Kecamatan Merdeka dengan 375 hektare dan Berastagi 291 hektare.

Adapun Kecamatan Naman Teran memiliki lahan terdampak seluas 225 hektare, Barus Jahe 158 hektare, dan Simpang Empat 17 hektare.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Michael Purba mengatakan sejumlah komoditas hortikultura paling rentan terhadap paparan abu vulkanik.

Komoditas tersebut antara lain kentang, kubis, cabai keriting, dan kembang kol.

Selain itu, tanaman wortel, bawang daun, dan tomat juga ikut terdampak.

Untuk lahan yang masih tertutup abu hingga 2 September 2026, luasnya mencapai 155 hektare di Kecamatan Naman Teran, tepatnya di Desa Kuta Tonggal dan Sukandebi.

Rinciannya terdiri atas 45 hektare tanaman kentang, 27 hektare kubis, 24 hektare kembang kol, 16 hektare cabai keriting, 25 hektare cabai rawit, 14 hektare tomat, dan 4 hektare brokoli.

Michael mengatakan paparan abu vulkanik yang berlangsung terus-menerus berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman.

Lapisan abu yang menempel pada permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.

Selain itu, proses pembungaan dan penyerbukan tanaman juga dapat terganggu.

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan produksi dan produktivitas tanaman apabila paparan abu berlangsung dalam waktu lama.

Meski demikian, Dinas Pertanian Kabupaten Karo belum dapat memastikan luas tanaman yang berpotensi gagal panen.

"Hasil pemantauan kita, air hujan membuat tanaman pulih dan tidak berbahaya lagi. Meski demikian, tapi nanti kita monitor lagi perubahan dan perkembangannya," kata Michael.

Hingga saat ini, Dinas Pertanian Kabupaten Karo juga belum menemukan adanya tanaman yang gagal panen akibat erupsi Gunung Sinabung.

"Sampai hari ini dan hasil pemantauan kita, belum ada kita temukan tanaman yang gagal panen," katanya.

Karena belum ada laporan tanaman yang gagal panen, Michael juga belum dapat memperkirakan total kerugian yang dialami petani.

Untuk sektor peternakan, Michael mengatakan belum menerima laporan mengenai ternak yang terdampak erupsi Gunung Sinabung.

Di tengah dampak erupsi terhadap sektor pertanian, aktivitas Gunung Sinabung masih berada pada Level III atau Siaga.

Berdasarkan laporan pengamatan pada Jumat, 4 September 2026, pukul 06.00–12.00 WIB, asap kawah Gunung Sinabung terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal.

Asap kawah teramati mencapai ketinggian sekitar 200–300 meter di atas puncak kawah.

Secara visual, Gunung Sinabung sempat terpantau jelas hingga kemudian tertutup kabut 0-I.

Dari sisi kegempaan, tidak tercatat adanya aktivitas gempa selama periode pengamatan tersebut.

Kondisi meteorologi di sekitar gunung api dilaporkan cerah dan berawan.

Angin bertiup sedang ke arah selatan dan barat, sedangkan suhu udara berada pada kisaran 17–27 derajat Celsius.

Meski aktivitas kegempaan nihil pada periode pengamatan tersebut, status Gunung Sinabung masih Level III atau Siaga.

Masyarakat dan wisatawan diminta mematuhi rekomendasi keselamatan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Masyarakat dan pengunjung dilarang melakukan aktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, kawasan dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung, serta radius 6 kilometer pada sektor selatan-tenggara.

Warga yang tinggal di sekitar sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta mewaspadai potensi bahaya lahar.

Pemerintah Kabupaten Karo juga diminta terus berkoordinasi dengan PVMBG dan Pos Pengamatan Gunungapi Sinabung untuk memantau perkembangan aktivitas gunung api.* (sp/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wali Kota Tanjungbalai Apresiasi Transformasi HKBP, Dorong Penguatan Iman di Tengah Keluarga
Pemko Tanjungbalai Dukung Reforma Agraria, Dorong Penataan Lahan yang Adil dan Berkelanjutan
Wali Kota Tanjungbalai Letakkan Batu Pertama Rehabilitasi RSUD dr Tengku Mansyur Senilai Rp4,77 Miliar
Bupati Batu Bara Dorong Penguatan Satu Data Indonesia untuk Pembangunan Tepat Sasaran
Gunung Sinabung Siaga Level 3, BPBD Sumut Pastikan Pengungsi dan Warga di Zona Merah Ditangani
Wapres Gibran Tinjau Rehabilitasi SMA Negeri 1 Barus, Bobby Nasution Minta Pembangunan Dipercepat
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru