BREAKING NEWS
Sabtu, 30 Agustus 2025

Wamendiktisaintek , Stella Christie: AI Bisa Berbohong, AI Gagal Hitung 729 Skenario Lolosnya Indonesia ke Piala Dunia 2026?

Justin Nova - Rabu, 11 Juni 2025 11:58 WIB
Wamendiktisaintek , Stella Christie: AI Bisa Berbohong, AI Gagal Hitung 729 Skenario Lolosnya Indonesia ke Piala Dunia 2026?
AI - Wamendiktisaintek Stella Christie dalam acara Simposium Integrasi Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Sektor Digital Informal di Jakarta, Rabu (11/6/2025). (foto: antr)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan temuan menarik tentang keterbatasan kecerdasan buatan (AI) saat digunakan untuk menghitung kemungkinan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.

Dalam pemaparannya di Simposium Integrasi Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Sektor Digital Informal di Jakarta, Rabu (11/6/2025), Stella menyampaikan bahwa AI ternyata bisa 'berbohong' atau tidak memberikan hasil analisis yang akurat.

Baca Juga:

"Waktu itu kami sedang ingin tahu, berapa besar kemungkinan Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia 2026 sebelum laga melawan China. Tersisa enam pertandingan lagi, dan dari data kami, ada 729 kemungkinan skenario," kata Stella.

Ia kemudian meminta timnya untuk menggunakan teknologi AI—dalam hal ini Deep Seek—untuk menghitung seluruh kemungkinan skenario tersebut. Namun yang didapatkan justru mengejutkan.

Baca Juga:

"AI yang kami gunakan ternyata tidak menghitung semua probabilitas. Ia hanya memberikan estimasi, bukan perhitungan menyeluruh. Jadi, dalam konteks ini, AI bisa dikatakan 'berbohong'," ujarnya.

Pernyataan ini sontak menyoroti pentingnya literasi dan pemahaman kritis terhadap penggunaan kecerdasan buatan, terutama ketika digunakan untuk pengambilan keputusan penting atau pemodelan data yang kompleks.

Lebih lanjut, Stella menekankan bahwa masyarakat tidak cukup hanya bisa mengoperasikan teknologi seperti AI, melainkan harus mampu mengevaluasi dan mengkritisi hasil yang diberikan oleh mesin tersebut.

"Penting sekali bagi generasi sekarang untuk memiliki kemampuan bernalar kritis, mengevaluasi, dan tidak menelan mentah-mentah hasil yang diberikan AI. Tanpa itu, kita bisa mengambil keputusan yang keliru karena terlalu percaya pada teknologi," ujar Stella.

Menurutnya, kemampuan mengevaluasi hasil kerja AI merupakan keterampilan utama yang harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan tinggi, khususnya dalam bidang digital dan teknologi informasi.

Stella juga menyinggung bahwa peluang besar di era AI harus dimanfaatkan untuk mendukung bonus demografi Indonesia. AI memungkinkan masyarakat di luar jalur pendidikan formal sekalipun untuk mendapatkan akses ke peluang yang sebelumnya hanya bisa diraih oleh para ahli.

"Yang paling diperlukan bukan skill yang sama persis dengan yang bisa dilakukan AI, tetapi bagaimana kita bisa mengevaluasi hasil kerja AI tersebut. Itu yang harus kita latih dan fasilitasi," tuturnya.

Editor
: Justin Nova
0 komentar
Tags
beritaTerkait
WhatsApp Luncurkan Fitur Canggih: Koreksi dan Parafrase Pesan dengan Teknologi AI
Elon Musk Buka Akses Grok 2.5 Sebagai Open Source, Grok 3 Menyusul Enam Bulan Lagi
Palo Alto Networks Soroti Ancaman dan Potensi Agentic AI Jelang Hakteknas 2025
Menko PMK Pratikno Ajak Siswa Ciptakan Game Bermuatan Pesan Baik, Singgung Soal Roblox
Inovasi Baru! Grammarly Hadirkan 8 Agen AI Canggih, Bantu Tingkatkan Kualitas Tulisan Pengguna
Tantangan Ganda Industri Kreatif Indonesia Menghadapi AI
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru