BREAKING NEWS
Kamis, 13 Agustus 2026

Indonesia Siap atau Jadi Korban? Desi Mamahit Ingatkan Ancaman di Balik Revolusi AI

gusWedha - Rabu, 24 Juni 2026 19:02 WIB
Indonesia Siap atau Jadi Korban? Desi Mamahit Ingatkan Ancaman di Balik Revolusi AI
Ketua Umum HIPKASI sekaligus Ketua Komite Tetap Keamanan Siber dan Perlindungan Infrastruktur Kritis KADIN Indonesia, Laksamana Madya TNI (Purn) Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc., C.Me. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus melaju cepat dan diprediksi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi dunia di masa depan.

Namun di balik peluang besar tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah Indonesia sudah siap menghadapi berbagai risiko keamanan yang menyertai revolusi teknologi AI?

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Keamanan Siber Indonesia (HIPKASI) sekaligus Ketua Komite Tetap Keamanan Siber dan Perlindungan Infrastruktur Kritis KADIN Indonesia, Laksamana Madya TNI (Purn) Dr. Desi Albert Mamahit, M.Sc., C.Me., menilai transformasi digital nasional harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem keamanan siber.

Baca Juga:

Menurut Desi, persaingan global dalam penguasaan teknologi AI saat ini tidak lagi sekadar soal ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan digital, keamanan nasional, hingga ketahanan ekonomi suatu negara.

"Negara yang berhasil menguasai AI tidak hanya memperoleh keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam mengelola data, melindungi infrastruktur digital, serta menjaga stabilitas sistem nasional dari berbagai ancaman siber," ujar Desi di Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang pelaksanaan ASOCIO Digital AI Summit 2026 dan ASOCIO Digital AI Award yang akan berlangsung di Jakarta pada 29-31 Juli 2026.

Menurutnya, forum internasional itu dapat menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat kesiapan menghadapi tantangan keamanan di era kecerdasan buatan.

Desi menjelaskan bahwa AI menghadirkan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.

Di satu sisi, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi industri, mempercepat pelayanan publik, meningkatkan produktivitas, dan mendorong inovasi di berbagai sektor.

Namun di sisi lain, AI juga membawa ancaman baru yang semakin kompleks.

Mulai dari serangan siber berbasis AI, penyebaran disinformasi digital, manipulasi data, hingga penyalahgunaan informasi dalam skala besar.

Karena itu, menurutnya, pembangunan ekosistem AI nasional tidak boleh hanya berfokus pada investasi dan pertumbuhan ekonomi.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
45 Tahun Mengabdi di ATR/BPN, Dr. Budi Suryanto Ungkap Akar Persoalan Agraria Nasional
Bobby Nasution Dorong Tanjungbalai Jadi Kota Maritim Modern, Infrastruktur dan Layanan Publik Jadi Fokus
PB ISMI Gelar Konferensi Internasional Selat Malaka 2026 di Batam, Buka Kesempatan bagi Pemakalah dari Dalam dan Luar Negeri
Masyarakat Bisa Pilih Logo HUT ke-81 RI, Begini Caranya!
Mobil Ringsek Usai Tabrak Truk di Taput, Polisi Temukan Ratusan Paket Ganja di Dalamnya
Program MBG Bakal Didukung AI? Ini Kata Menko Airlangga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru