Menurut salah satu pemandu museum, Fiki, karya seni sengaja dihadirkan sebagai visualisasi sejarah agar pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi benar-benar masuk ke dalam cerita sejarah perkebunan.
"Ada yang lewat visual, suara, komik, sampai karya sastra seperti puisi," ujarnya.