BREAKING NEWS
Rabu, 15 April 2026

Museum Perkebunan Indonesia 1: Sejarah dan Seni Bisa Dirasa, Didengar, Bahkan Dicium!

Adelia Syafitri - Jumat, 09 Januari 2026 09:01 WIB
Museum Perkebunan Indonesia 1: Sejarah dan Seni Bisa Dirasa, Didengar, Bahkan Dicium!
Museum Perkebunan Indonesia 1 di Kota Medan. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN Museum Perkebunan Indonesia 1 di Kota Medan menghadirkan pengalaman baru dalam memahami sejarah perkebunan di Indonesia.

Terletak di Jalan Brigjen Katamso, museum ini memadukan koleksi sejarah dengan seni, teknologi interaktif, dan pengalaman multisensori, sehingga pengunjung dapat melihat, mendengar, menyentuh, bahkan merasakan jejak perkebunan Indonesia.

Beragam komoditas seperti tembakau, sawit, karet, tebu, kakao, dan kopi disajikan melalui medium kreatif, mulai dari karya seni visual, komik, puisi, instalasi suara, hingga teknologi interaktif.

Baca Juga:

Salah satu sorotan utama adalah komik Sukma Hilang karya Masdar, yang menampilkan kisah kehidupan petani dan buruh perkebunan Deli lengkap dengan narasi suara yang bisa didengar melalui headset.

Pendekatan audio-visual ini memudahkan pengunjung untuk memahami alur cerita dan pesan sejarah, tidak hanya melalui bacaan, tetapi juga melalui pengalaman mendengar.

Museum juga menghadirkan instalasi interaktif berjudul Artemis & Aphrodite: Melebur dengan Ingatan Sang Daun Emas (2025) yang menelusuri sejarah perkebunan tembakau melalui panel tekstil transparan berlapis.

Pengunjung dapat merasakan lapisan sejarah secara fisik dan visual, termasuk melalui kolase mozaik kaca berbentuk huruf Braille yang menampilkan frase reflektif "bercermin dengan masa lalu".

Dimensi pengalaman museum semakin kaya melalui instalasi suara Catch The Sound (2025) karya Wasis Tanata.

Instalasi ini merekam bunyi alam perkebunan dan aktivitas manusia, mulai dari kicau burung, aliran air, hembusan angin, hingga dentuman mesin panen sawit dan suara pembuatan dodos.

Bunyi-bunyi tersebut disajikan melalui sistem multispeaker yang menekankan transformasi antara alam, kerja manusia, dan teknologi dari masa lalu hingga kini.

Museum juga memanfaatkan sensor aroma untuk menghadirkan bau khas komoditas perkebunan, seperti tembakau, sawit, tebu, kakao, dan kopi.

Pendekatan ini memperkuat konsep museum sebagai ruang edukasi multisensori yang melibatkan seluruh indera pengunjung.

Menurut salah satu pemandu museum, Fiki, karya seni sengaja dihadirkan sebagai visualisasi sejarah agar pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi benar-benar masuk ke dalam cerita sejarah perkebunan.

"Ada yang lewat visual, suara, komik, sampai karya sastra seperti puisi," ujarnya.

Dengan memadukan sejarah, seni, teknologi, dan pendampingan pemandu, Museum Perkebunan Indonesia 1 menghadirkan sejarah perkebunan sebagai pengalaman yang hidup.

Pengunjung tidak hanya melihat masa lalu, tetapi juga merasakan perjalanan panjang perkebunan yang membentuk wajah Indonesia hari ini.*

(ds/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Sigale-gale, Patung Kayu Penari dari Danau Toba yang Menyimpan Misteri Roh Leluhur
Bukan Hanya Manusia yang Menari
TNI AD Selidiki Dugaan Kekerasan Senior dalam Kematian Pratu Farkhan
Karya Seniman Indonesia Laris di Pasar Global, Lukisan Raden Saleh Termahal
Mengenal 10 Alat Musik Khas Sumatera Utara, dari Batak hingga Nias
Budayawan dan Rohaniwan Katolik Romo Mudji Sutrisno Tutup Usia 71 Tahun
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru