Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN - Simalungun menyimpan jejak penting dalam sejarah ekonomi Sumatera Utara.
Jauh sebelum dikenal sebagai sentra perkebunan teh, karet, kopi, dan kelapa sawit, wilayah ini mengalami transformasi besar pada masa kolonial Belanda yang mengubah struktur ruang, sosial, dan ekonomi masyarakatnya.
Sejarawan Erond L. Damanik dalam buku Potret Simalungun Tempoe Doeloe: Menafsir Kebudayaan Lewat Foto mencatat bahwa hingga 1938, sekitar sepertiga wilayah Simalungun telah berubah menjadi areal perkebunan.
Baca Juga:
Dari total 151.295 hektare, sekitar 120.000 hektare telah dikonversi menjadi tanah konsesi yang dikelola puluhan perusahaan.
"Sebagaimana diketahui bahwa hingga tahun 1938, sepertiga tanah Simalungun sudah menjadi perkebunan," tulis Damanik dalam kajiannya.
Komoditas utama yang dikembangkan pada masa itu meliputi karet, teh, kopi, dan kelapa sawit.
Dalam catatan arsip kolonial, terlihat bagaimana kawasan seperti Siantar Estate menjadi pusat aktivitas perkebunan yang tertata secara industri.
"Di antaranya 14 perkebunan teh, 20 perkebunan karet, 10 perkebunan campuran (karet, teh, kopi dan kelapa sawit)," tulis Damanik.
Sejumlah perusahaan besar Belanda dan asing seperti HVA, Goodyear, dan Lonsum tercatat menguasai konsesi perkebunan di wilayah Pematangsiantar dan sekitarnya.
Kehadiran mereka tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi serta infrastruktur modern ke Sumatera Timur pada awal abad ke-20.
"Perkebunan yang menjadi penyokong Siantar telah jatuh kepada pengusaha Belanda dan mancanegara seperti HVA, Goodyear dan Lonsum," tulisnya.
Dampak dari ekspansi perkebunan tersebut turut membentuk masyarakat Simalungun yang lebih majemuk.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.