BREAKING NEWS
Rabu, 05 Agustus 2026

Tak Banyak Tahu! Sepertiga Simalungun Pernah Dikuasai Perkebunan Kolonial

Adelia Syafitri - Rabu, 20 Mei 2026 08:28 WIB
Tak Banyak Tahu! Sepertiga Simalungun Pernah Dikuasai Perkebunan Kolonial
Karet dan Kopi Robusta di Siantar Estate, milik HVA, 1920. (foto: kitlv.nl)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN - Simalungun menyimpan jejak penting dalam sejarah ekonomi Sumatera Utara.

Jauh sebelum dikenal sebagai sentra perkebunan teh, karet, kopi, dan kelapa sawit, wilayah ini mengalami transformasi besar pada masa kolonial Belanda yang mengubah struktur ruang, sosial, dan ekonomi masyarakatnya.

Sejarawan Erond L. Damanik dalam buku Potret Simalungun Tempoe Doeloe: Menafsir Kebudayaan Lewat Foto mencatat bahwa hingga 1938, sekitar sepertiga wilayah Simalungun telah berubah menjadi areal perkebunan.

Baca Juga:

Dari total 151.295 hektare, sekitar 120.000 hektare telah dikonversi menjadi tanah konsesi yang dikelola puluhan perusahaan.

"Sebagaimana diketahui bahwa hingga tahun 1938, sepertiga tanah Simalungun sudah menjadi perkebunan," tulis Damanik dalam kajiannya.

Komoditas utama yang dikembangkan pada masa itu meliputi karet, teh, kopi, dan kelapa sawit.

Dalam catatan arsip kolonial, terlihat bagaimana kawasan seperti Siantar Estate menjadi pusat aktivitas perkebunan yang tertata secara industri.

"Di antaranya 14 perkebunan teh, 20 perkebunan karet, 10 perkebunan campuran (karet, teh, kopi dan kelapa sawit)," tulis Damanik.

Sejumlah perusahaan besar Belanda dan asing seperti HVA, Goodyear, dan Lonsum tercatat menguasai konsesi perkebunan di wilayah Pematangsiantar dan sekitarnya.

Kehadiran mereka tidak hanya membawa modal, tetapi juga teknologi serta infrastruktur modern ke Sumatera Timur pada awal abad ke-20.

"Perkebunan yang menjadi penyokong Siantar telah jatuh kepada pengusaha Belanda dan mancanegara seperti HVA, Goodyear dan Lonsum," tulisnya.

Dampak dari ekspansi perkebunan tersebut turut membentuk masyarakat Simalungun yang lebih majemuk.

Arus tenaga kerja dari berbagai daerah di Nusantara menciptakan keberagaman etnis yang hingga kini menjadi karakter sosial Pematangsiantar.

"Eksistensi perkebunan inilah yang pada akhirnya menopang dan membentuk masyarakat Siantar yang majemuk," tulis Damanik.

Selain perubahan sosial, industri perkebunan juga mendorong lahirnya modernisasi di kawasan tersebut.

Infrastruktur seperti jalan raya, rel kereta api, pabrik pengolahan, gudang, hingga fasilitas kesehatan berkembang mengikuti kebutuhan industri.

Dalam pandangan Damanik, dokumentasi visual berupa foto kolonial memiliki nilai penting sebagai sumber sejarah.

Menurutnya, foto itu bukan sekadar rekaman masa lalu, tetapi juga alat untuk memahami konteks sosial dan budaya.

"Foto bukan saja menggambarkan situasi masa lalu, tetapi juga menjadi alat analisis guna membentang persoalan kekinian," tulisnya.

Ia juga menegaskan bahwa sejarah memiliki fungsi reflektif bagi kehidupan masa kini, baik sebagai teladan maupun peringatan agar kesalahan masa lalu tidak terulang.

Kini, jejak sejarah itu masih dapat ditemukan di berbagai wilayah Simalungun, mulai dari hamparan kebun teh di Sidamanik hingga infrastruktur lama peninggalan perkebunan kolonial.

Semua itu menjadi penanda bahwa industri perkebunan telah memainkan peran besar dalam membentuk identitas sosial dan ekonomi kawasan tersebut.*


(d/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Membaca Ulang Kebangkitan Nasional dan Luka Ekonomi Bangsa
Sinkronisasi Revisi RTRW Asahan 2026–2046, Sekda: Infrastruktur Perbatasan Jadi Prioritas Dongkrak Ekonomi
Prabowo Bakal Cetak Sejarah, Jadi Presiden Pertama Pidato Soal Keuangan di DPR
Wagub Sumut Surya Tinjau Dinas Perpustakaan dan Arsip, Tekankan Keaslian Dokumen Sejarah Harus Dijaga
Prabowo Dijadwalkan Hadiri Paripurna DPR, Sampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal 2027
Rupiah Melemah Lagi! Tembus Rp17.685, BI Sebut “Nilai Fundamental Harusnya di Rp16.500”
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru