Wakil Wali Kota Medan Dukung Lomba Domino, Dorong Kegiatan Positif Jauhkan Warga dari Judol
MEDAN Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap mengapresiasi pelaksanaan Lomba Domino Medali Ade Jona Prasetyo di Jalan Mangaan I, Ke
PEMERINTAHAN
Oleh:Hasnuddin Wahid.
SETIAP tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai momentum lahirnya kesadaran kolektif melawan penjajahan. Nama Budi Utomo disebut, pelajar STOVIA dikenang, dan semangat persatuan dipuji.
Namun ada satu pertanyaan penting yang jarang diajukan secara serius: mengapa kesadaran nasional itu muncul justru pada awal abad ke-20, dan bukan dua atau tiga abad sebelumnya ketika penjajahan sudah berlangsung lama?Baca Juga:
Jawabannya ternyata bukan semata-mata soal nasionalisme, pendidikan, atau politik. Ada faktor yang lebih mendasar dan lebih dekat dengan kehidupan rakyat sehari-hari: ekonomi.
Kebangkitan nasional Indonesia sesungguhnya lahir dari akumulasi penderitaan ekonomi kolonial yang panjang. Nasionalisme tidak hanya lahir dari pidato kaum terpelajar, tetapi juga dari sawah yang gagal panen, pajak yang mencekik, kerja paksa, dan kemiskinan struktural yang diwariskan kolonialisme (Furnivall, 1944).
Pada abad ke-19, Hindia Belanda menjadi salah satu sumber kekayaan terbesar bagi Kerajaan Belanda melalui sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang diterapkan sejak 1830 oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch.
Melalui sistem ini, petani Nusantara diwajibkan menyerahkan sebagian tanah dan tenaganya untuk menanam komoditas ekspor seperti kopi, gula, teh, nila, dan tembakau (Elson, 1994).
Hasilnya luar biasa bagi Belanda. Sejarawan ekonomi mencatat bahwa antara 1830-1877, pemerintah Belanda memperoleh surplus sekitar 823 juta gulden dari Hindia Belanda.
Dengan dana tersebut, membuat Belanda bisa membayar utang negara, membangun rel kereta api, kanal, dan mempercepat industrialisasi (Ricklefs, 2008).
Ironisnya, dana sebesar itu diraup Belanda di atas keringat dan darah rakyat Nusantara.
Kala itu, di berbagai wilayah Jawa, petani kehilangan ruang untuk menanam pangan sendiri.
Akibatnya, bencana kelaparan terjadi di sejumlah daerah seperti Cirebon, Demak, dan Grobogan. Dalam periode 1840-an hingga 1850-an, ribuan orang meninggal akibat kombinasi gagal panen, pajak tinggi, dan eksploitasi kolonial (Boomgaard, 2007).
MEDAN Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap mengapresiasi pelaksanaan Lomba Domino Medali Ade Jona Prasetyo di Jalan Mangaan I, Ke
PEMERINTAHAN
JAKARTA Kejaksaan Agung atau Kejagung membantah dalil mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah yang me
HUKUM DAN KRIMINAL
YOGYAKARTA Masyarakat yang tercatat dalam desil 9 atau 10 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) belum tentu merasa memiliki k
EKONOMI
MEDAN Kepala Dusun (Kadus) IV Kesatuan Harapan Baru, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sugimin, dituntut enam tahun penjara dalam
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Perum Bulog Cabang Medan mulai menyalurkan bantuan pangan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) tahap kedua untuk alokasi JuliSeptember
EKONOMI
MAUMERE Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta maaf kepada warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), j
NASIONAL
JAKARTA Hutan hujan tropis Indonesia dan Malaysia, termasuk kawasan hutan serta gambut di Kalimantan, pada dasarnya bukan ekosistem yang
PERISTIWA
JAKARTA Kejaksaan Agung atau Kejagung menilai dalil mengenai duplikasi penetapan tersangka yang diajukan mantan Jampidsus Febrie Adrians
HUKUM DAN KRIMINAL
BANDA ACEH Tiga dosen Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha) memperoleh sertifikat Hak Cipta dari Kementerian Hukum melalui Kantor Wilay
NASIONAL
MEDAN Bursa Wirausaha Unggulan Sumatera Utara digelar di Universitas Sumatera Utara (USU), Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan bertema Ber
EKONOMI