BREAKING NEWS
Kamis, 21 Mei 2026

Nobar Film “Pesta Babi” di Medan Soroti Perjuangan Masyarakat Adat Papua dan Isu Kolonialisme Modern

Raman Krisna - Kamis, 21 Mei 2026 20:56 WIB
Nobar Film “Pesta Babi” di Medan Soroti Perjuangan Masyarakat Adat Papua dan Isu Kolonialisme Modern
Nobar dan diskusi publik film dokumenter bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di King Coffee, Jalan Pancing No. 100, Sidorejo, Medan Tembung, Rabu malam (20/5/2026). (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN Ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, aktivis, hingga masyarakat umum menghadiri kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi publik film dokumenter bertajuk "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita" di King Coffee, Jalan Pancing No. 100, Sidorejo, Medan Tembung, Rabu malam (20/5/2026).

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 150 peserta dari berbagai organisasi kampus dan komunitas yang ada di Kota Medan.

Acara ini digagas oleh Siagian Global Research (SGR) bersama sejumlah organisasi mahasiswa dan lembaga masyarakat sipil, serta didukung berbagai media dan lembaga advokasi.

Baca Juga:

Film dokumenter "Pesta Babi" menyoroti perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dari suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu dalam mempertahankan tanah ulayat mereka dari berbagai proyek pembangunan dan investasi berskala besar.

Film tersebut menggambarkan dinamika yang disebut sebagai bentuk kolonialisme modern yang berdampak pada perampasan ruang hidup, kerusakan lingkungan, serta ancaman terhadap budaya masyarakat adat.

Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang dipantik oleh akademisi Antropologi, Dr. Rosramadhana, serta perwakilan mahasiswa Papua di Sumatera Utara, Aristoteles Tekege.

Dalam pemaparannya, Rosramadhana menilai film tersebut merefleksikan realitas sosial yang tidak hanya terjadi di Papua, tetapi juga relevan dengan isu masyarakat adat di berbagai daerah di Indonesia.

"Film ini menjadi pengingat bagi kita semua, bukan hanya soal Papua, tapi juga masyarakat adat di daerah lain yang menghadapi ancaman serupa," ujarnya.

Sementara itu, Aristoteles Tekege menyebut sejumlah adegan dalam film menggambarkan realitas yang dialami masyarakat Papua, meski masih ada aspek lain yang belum sepenuhnya terekspos, terutama dampak sosial dan psikologis.

Diskusi juga diikuti berbagai organisasi mahasiswa seperti HMI, GMNI, PMKRI, hingga komunitas kampus di Medan yang turut menyampaikan pandangan terkait isu lingkungan, sosial, dan keadilan masyarakat adat.

Acara berlangsung hangat dan interaktif hingga akhir, ditutup dengan penggalangan donasi sukarela untuk mendukung dokumenter dan perjuangan masyarakat adat Papua.*

(dh)

Editor
: Raman Krisna
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Yusril Tegaskan Nobar Film “Pesta B*” Tak Dilarang, Minta Seniman Lebih Terbuka
Kasad soal Pembubaran Nobar Film Pesta B*: Itu Permintaan Pemda
Pigai Tanggapi Pembubaran Nobar Film “Pesta Babi”: Pemutaran Tak Bisa Dilarang Sepihak Tanpa Dasar Hukum
DPR Soroti Pembubaran Nobar Film ‘Pesta Babi’, Puan: Akan Panggil Komisi Terkait untuk Klarifikasi
Menteri HAM Tegaskan Pelarangan Nobar Film Tak Bisa Sepihak, Harus Lewat Pengadilan
Nobar Film ‘Pesta Babi’ Dibubarkan di Sejumlah Kampus, DPR Bicara Soal Batas Kebebasan Akademik
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
Dor! Dor!

Dor! Dor!

Oleh Dahlan IskanDOR!Mungkin tidak ada yang tewas oleh tembakan Presiden Prabowo di sidang pleno DPR kemarin. Tapi yang terluka pasti banya

OPINI