SIMALUNGUN – Jauh sebelum agama Islam dan Kristen berkembang di Tanah Simalungun, masyarakat setempat telah mengenal sistem kepercayaan asli yang disebut Habonaron.
Kepercayaan ini tidak hanya mengatur relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjadi pedoman dalam menjaga keseimbangan dengan alam dan sesama manusia.
Penulis dan akademisi Erond L. Damanik menyebut Habonaron sebagai sistem keyakinan asli masyarakat Simalungun yang telah hidup jauh sebelum masuknya agama-agama besar ke wilayah tersebut.
"Habonaron adalah agama atau keyakinan asli orang Simalungun. Seperti agamatradisional lainnya, di dalamnya terdapat konsep dewata tertinggi yang disebut Naibata (Tuhan), serta dewa-dewi dan kisah penciptaan manusia pertama di Desa Naualuh," ujar Erond, Rabu (3/6/2026).
Menurut Erond, jejak Habonaron juga telah tercatat dalam tulisan J. Tideman pada 1922 yang mendokumentasikan kosmologi dan kepercayaan masyarakat Simalungun sebelum pengaruh agama samawi masuk ke wilayah tersebut.
Ajaran Keseimbangan antara Manusia dan Alam
Erond menjelaskan, inti ajaran Habonaron adalah kebajikan dan keseimbangan.
Sistem kepercayaan ini menempatkan hubungan harmonis antara manusia, alam, hewan, dan tumbuhan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
"Ini adalah keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos, yakni manusia dengan alam semesta," katanya.
Dalam pandangan tersebut, manusia tidak ditempatkan sebagai pusat yang mendominasi alam, melainkan sebagai bagian yang wajib menjaga harmoni kehidupan.
Masuknya Agama Baru dan Perubahan Sosial
Seiring masuknya agama Islam pada 1886, kemudian Protestan pada 1903, serta Katolik pada 1937, masyarakat Simalungun tidak mencatat adanya konflik besar dalam proses perubahan keyakinan tersebut.