Pilkades Serentak 2026: Tiga Desa di Tanjungbalai Asahan Rampungkan Pemungutan Suara
KISARAN Tiga desa di Kecamatan Tanjungbalai, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026, R
POLITIK
BANDA ACEH — Keluarga merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia.
Melalui keluarga, seseorang memiliki tempat untuk pulang, berbagi kebahagiaan dan kesedihan, sekaligus belajar tentang iman, kasih sayang, tanggung jawab, dan akhlak.
Hal itu disampaikan Dr. Agustin Hanafi, Lc, MA dalam Pengajian Rutin Ahad Subuh pada Ahad, 23 Agustus 2026, di Masjid Taqwa Muhammadiyah Banda Aceh.Baca Juga:
Dalam materi bertajuk "Kiat-Kiat Menggapai Keluarga SAMARA", Agustin mengatakan keluarga dalam Islam bukan sekadar hubungan biologis atau ikatan sosial.
Keluarga merupakan amanah sekaligus ibadah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Ia mengutip Surah Ar-Rum ayat 21 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan pasangan agar manusia merasa tenteram, serta menjadikan di antara pasangan rasa kasih dan sayang.
Menurut Agustin, terdapat tiga kata penting dalam ayat tersebut, yakni sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Sakinah berarti ketenteraman, mawaddah menggambarkan cinta dan kasih yang kuat, sedangkan rahmah merupakan kasih sayang yang melahirkan kepedulian, pengorbanan, dan keinginan untuk menjaga pasangan.
Karena itu, menurut dia, keluarga SAMARA bukan berarti keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah.
Keluarga SAMARA adalah keluarga yang mampu kembali kepada iman, kasih sayang, komunikasi, dan penyelesaian yang baik ketika menghadapi persoalan.
"Perceraian memang diperbolehkan dalam syariat ketika rumah tangga sudah tidak mungkin dipertahankan, tetapi perceraian tidak boleh dijadikan jalan keluar yang tergesa-gesa hanya karena persoalan emosi, perbedaan karakter, masalah ekonomi, atau konflik yang sebenarnya masih dapat diselesaikan," kata Agustin dalam materinya.
Ia mengatakan, apabila perceraian benar-benar harus terjadi, prosesnya tetap harus dilakukan dengan cara yang baik dan tidak saling menzalimi.
Al-Qur'an, kata dia, mengajarkan agar pasangan mempertahankan hubungan dengan cara yang baik atau melepaskannya dengan cara yang baik.
"Prinsip ini menunjukkan bahwa dalam Islam, bahkan ketika hubungan suami istri berakhir, kehormatan manusia tetap harus dijaga," ujarnya.
Agustin juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan ungkapan bahwa "perceraian adalah sesuatu yang paling dibenci Allah".
Menurut dia, riwayat yang sering digunakan untuk pernyataan tersebut tidak cukup kuat untuk dijadikan dasar utama.
Menurut Agustin, prinsip yang lebih kuat adalah ajaran Al-Qur'an bahwa pernikahan harus dipertahankan dengan cara yang baik.
Jika tidak dapat dipertahankan, perpisahan pun harus dilakukan secara baik.
Agustin mengatakan persoalan yang juga harus dipikirkan ketika terjadi konflik rumah tangga adalah dampaknya terhadap anak.
Anak, kata dia, tidak hanya membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan, dan tempat tinggal.
Anak membutuhkan rasa aman, perhatian, keteladanan, serta kehadiran orang tua.
Karena itu, ia mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan anak sebagai korban konflik rumah tangga.
"Jangan menjadikan anak sebagai tempat melampiaskan kemarahan kepada pasangan, jangan menjelek-jelekkan ayah atau ibunya di hadapan anak, dan jangan memaksa anak memilih pihak," katanya.
Jika perceraian menjadi jalan terakhir, tanggung jawab sebagai orang tua tidak berhenti.
Anak tetap memiliki hak memperoleh kasih sayang, pendidikan, nafkah, perlindungan, dan perhatian dari kedua orang tuanya.
Menurut Agustin, banyak persoalan rumah tangga tidak bermula dari masalah besar.
Persoalan justru muncul dari berbagai masalah kecil yang terus menumpuk dan tidak pernah diselesaikan.
Ada pasangan yang jarang berkomunikasi. Ada yang merasa tidak dihargai. Ada pula yang merasa seluruh beban mengurus rumah dan anak hanya menjadi tanggung jawabnya.
Sebagian lainnya merasa pasangan hanya menuntut hak, tetapi kurang melaksanakan kewajiban.
Agustin menyoroti pemahaman bahwa ketika suami telah menyediakan tempat tinggal, makanan, dan nafkah, seluruh urusan rumah tangga otomatis menjadi tanggung jawab istri.
Menurut dia, kehidupan keluarga jauh lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan materi.
Suami memang memiliki kewajiban memberikan nafkah dan memimpin keluarga.
Namun, kepemimpinan tersebut merupakan amanah untuk melindungi, membimbing, memenuhi kebutuhan, mengambil keputusan dengan bijaksana, dan menciptakan ketenteraman.
"Suami tidak boleh menggunakan statusnya sebagai kepala keluarga untuk merendahkan, mengintimidasi, atau memaksakan kehendak kepada istri," kata Agustin.
Ia juga mengingatkan bahwa ukuran kebaikan seorang laki-laki bukan hanya terlihat ketika berada di masjid, tempat kerja, atau tengah masyarakat.
Kebaikan itu juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya di rumah.
Agustin mengatakan suami dan istri bukan dua pihak yang saling berhadapan untuk mempertahankan siapa yang paling berkuasa.
Keduanya merupakan pasangan yang berjalan dalam satu bahtera.
"Ketika salah satu ingin menang sendiri, sesungguhnya keluarga sedang kalah. Ketika suami dan istri saling membantu, sesungguhnya keduanya sedang membangun kemenangan bersama," ujarnya.
Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menggambarkan hubungan suami dan istri seperti pakaian satu sama lain.
Pakaian berfungsi menutup kekurangan, melindungi dari sesuatu yang menyakiti, memberikan kenyamanan, dan menjaga kehormatan. Begitu pula seharusnya hubungan suami dan istri.
"Kekurangan pasangan tidak diumbar kepada orang lain, aib pasangan tidak disebarluaskan, dan kelemahan pasangan tidak dijadikan senjata ketika terjadi pertengkaran," kata Agustin.
Menurut dia, pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak juga tidak seharusnya semata-mata dianggap sebagai pekerjaan istri.
Islam mengajarkan semangat ta'awun, yakni saling membantu dalam kebaikan. Ia kemudian mengingatkan teladan Rasulullah SAW yang membantu pekerjaan keluarganya.
"Ini merupakan pelajaran penting bagi para suami: membantu keluarga bukanlah tanda kehilangan wibawa, tetapi justru tanda kemuliaan akhlak," ujarnya.
Agustin menggambarkan seorang ibu yang sepanjang hari mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, mencuci, mendampingi anak belajar, hingga membawa anak ke dokter ketika sakit.
Jika semua pekerjaan itu dianggap sebagai tugas istri semata, kata dia, lama-kelamaan dapat muncul kelelahan, kekecewaan, dan perasaan tidak dihargai.
Sebaliknya, ketika suami hadir dan mengatakan, "Mari kita lakukan bersama," kalimat sederhana itu dapat menjadi sumber kekuatan bagi istri.
Begitu pula dengan suami yang bekerja keras mencari nafkah. Istri perlu memahami perjuangan suami yang menghadapi tekanan pekerjaan dan kebutuhan ekonomi.
Namun, suami juga harus memahami bahwa istri yang mengurus rumah dan anak memiliki kelelahan yang sering tidak terlihat.
"Keluarga akan menjadi kuat apabila masing-masing belajar melihat beban pasangannya, bukan hanya menghitung beban dirinya sendiri," kata Agustin.
Agustin kemudian menyampaikan sejumlah kiat untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Pertama, memperkuat iman dan ibadah bersama. Menurut dia, keluarga tidak cukup hanya memiliki rumah yang bagus.
Suasana spiritual juga harus dibangun melalui salat, membaca Al-Qur'an, zikir, doa, dan nasihat yang baik.
Suami dan istri perlu saling mengingatkan untuk salat serta mengajak anak mencintai Al-Qur'an.
Kedua, membangun komunikasi yang sehat. Banyak konflik rumah tangga terjadi bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena tidak ada komunikasi.
Pasangan dianjurkan tidak menunggu masalah menjadi besar untuk berbicara.
Diskusi sebaiknya dilakukan ketika suasana tenang dan masing-masing bersedia mendengarkan.
Dalam komunikasi rumah tangga, pasangan juga perlu membedakan antara mengkritik perilaku dan menyerang pribadi.
Kalimat "Saya sedih ketika masalah ini terjadi" dinilai lebih baik daripada "Kamu memang tidak pernah peduli."
Kalimat pertama membuka ruang dialog, sementara kalimat kedua membuat pasangan merasa diserang.
Ketiga, saling menghargai dan mengapresiasi. Suami dan istri jangan sampai lebih mudah memuji orang lain daripada mengucapkan terima kasih kepada pasangan sendiri.
"Suami perlu mengatakan, 'Terima kasih sudah menjaga keluarga.' Istri juga dapat mengatakan, 'Terima kasih sudah berusaha memenuhi kebutuhan keluarga,'" ujar Agustin.
Menurut dia, kalimat sederhana tersebut dapat menumbuhkan rasa dihargai dan memperkuat ikatan emosional.
Keempat, membangun kepercayaan. Rumah tangga akan sulit merasa nyaman apabila suami dan istri terus saling curiga.
Kepercayaan dibangun melalui kejujuran, konsistensi, keterbukaan, dan menjaga batas-batas yang telah ditetapkan Allah SWT.
"Karena itu, jangan membangun hubungan dengan kebohongan. Jangan menyembunyikan sesuatu yang seharusnya diketahui pasangan, terutama dalam persoalan yang dapat memengaruhi kehidupan keluarga," katanya.
Kelima, transparansi dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Banyak konflik rumah tangga terjadi bukan hanya karena kekurangan uang, tetapi karena tidak adanya keterbukaan dalam mengelola keuangan.
Suami dan istri perlu mengetahui kondisi ekonomi keluarga, mulai dari pendapatan, kebutuhan pokok, kewajiban, utang jika ada, hingga rencana tabungan.
Ketika ekonomi sedang baik, pasangan tidak dianjurkan hidup berlebihan. Saat kondisi ekonomi sulit, suami dan istri juga tidak seharusnya saling menyalahkan.
"Suami dan istri harus menjadi satu tim. Jika salah satu sedang jatuh, yang lain membantu menguatkan," ujar Agustin.
Keenam, mengendalikan emosi ketika terjadi konflik. Agustin mengingatkan pasangan agar tidak mengambil keputusan besar ketika sedang marah.
Jangan mengucapkan kata-kata yang dapat menghancurkan harga diri pasangan atau mengancam perceraian setiap kali terjadi pertengkaran.
Menurut dia, kekuatan seseorang bukan hanya kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi juga kemampuan mengendalikan diri ketika marah.
"Kadang-kadang kemenangan terbesar seorang suami adalah ketika ia mampu menahan amarahnya. Demikian pula kemenangan terbesar seorang istri adalah ketika ia mampu menjaga lisannya saat sedang kecewa," katanya.
Ketujuh, tidak membawa masalah rumah tangga kepada terlalu banyak orang.
Ketika menghadapi masalah, pasangan sebaiknya tidak langsung membuka aib kepada teman, keluarga besar, ataupun media sosial.
Jika membutuhkan bantuan, pilih orang yang amanah dan bijaksana serta mampu membantu menyelesaikan masalah.
Kedelapan, menjadikan rumah sebagai tempat yang nyaman. Rumah, kata Agustin, harus menjadi tempat setiap anggota keluarga merasa diterima, dicintai, dan dihargai.
"Ketika suami pulang, istri tidak merasa takut. Ketika istri berbicara, suami tidak merasa terganggu. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua membimbingnya tanpa mempermalukannya," ujarnya.
Agustin mengatakan keluarga SAMARA tidak dibangun dalam satu hari. Keluarga tersebut dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Kebiasaan itu antara lain salat bersama, makan bersama ketika memungkinkan, berbicara dari hati ke hati, saling membantu, saling memaafkan, saling mendoakan, dan saling menjaga aib.
Ia mengingatkan pasangan agar tidak menunggu pasangannya berubah terlebih dahulu sebelum berbuat baik.
"Jangan berkata, 'Kalau dia menghargai saya, baru saya menghargainya.' Jangan berkata, 'Kalau dia meminta maaf, baru saya memaafkan.' Rumah tangga bukan tempat untuk saling menunggu siapa yang memulai kebaikan. Jadilah orang pertama yang memulai," kata Agustin.
Menurut dia, pasangan juga harus memahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Pernikahan bukan proses mencari manusia sempurna, melainkan proses belajar menjadi pasangan yang lebih baik.
Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 19 agar manusia bersabar ketika tidak menyukai sesuatu dari pasangannya.
Bisa jadi, sesuatu yang tidak disukai justru memiliki kebaikan yang banyak.
"Pada akhirnya, keluarga SAMARA bukan keluarga yang bebas dari masalah. Keluarga SAMARA adalah keluarga yang memiliki cara yang benar dalam menghadapi masalah," ujar Agustin.
Ia mengatakan ketika ada konflik, keluarga harus kembali kepada Allah. Ketika ada kekurangan, pasangan saling melengkapi.
Ketika ada kesalahan, keduanya saling menasihati. Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, mereka saling menguatkan.
"Ketika ada perbedaan, mereka berdialog. Dan ketika salah satu jatuh, yang lain mengulurkan tangan," katanya.
Agustin mengajak masyarakat menjadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya iman, cinta, ilmu, akhlak, dan ketenangan.
Menurut dia, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah pasangan sudah menjadi pasangan yang baik, melainkan apakah diri sendiri sudah menjadi pasangan yang baik.
"Sebab keluarga yang baik tidak dimulai dari pasangan yang sempurna. Keluarga yang baik dimulai dari suami yang mau memperbaiki dirinya, istri yang mau memperbaiki dirinya, dan keduanya yang sama-sama ingin mendekat kepada Allah SWT," ujar Agustin.
Ia menutup materi dengan doa agar Allah SWT menjadikan keluarga sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah, saling mencintai karena Allah, saling menolong dalam kebaikan, saling menutup aib, serta saling menguatkan dalam menghadapi kesulitan.
"Ya Allah, perbaikilah keluarga kami, perbaikilah anak-anak kami, jadikan rumah-rumah kami rumah yang penuh ketenteraman, cinta, dan kasih sayang. Jauhkan keluarga kami dari pertengkaran yang merusak, dari kebohongan, pengkhianatan, kesombongan, dan segala sesuatu yang menjauhkan kami dari-Mu. Aamiin ya Rabbal 'alamin."* (ad)
KISARAN Tiga desa di Kecamatan Tanjungbalai, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak 2026, R
POLITIK
ACEH SELATAN Kapolres Aceh Selatan AKBP T. Ricki Fadlianshah menepati janjinya untuk membantu memperbaiki rumah seorang janda eks kombatan
NASIONAL
JAKARTA Pengacara Presiden ke7 RI Joko Widodo (Jokowi), Rivai Kusumanegara, memastikan kliennya akan hadir langsung dalam persidangan per
NASIONAL
SOLO Presiden ke7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengungkap isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Kertanegara, Jakarta. Pertemuan
POLITIK
SUKABUMI Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi Rojab Asy&039ari menjadi sorotan setelah menurunkan foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka d
POLITIK
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil lima saksi untuk mendalami pengembangan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan dan p
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 115,44 poin atau 1,88 persen ke level 6.031 pada perdagangan Kamis (8/10/2026).
EKONOMI
JAKARTA Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Rupiah turun 28 poin at
EKONOMI
JAKARTA Istana menanggapi polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka setelah Mahkamah Konstitusi (MK) membacakan putusan terkait
NASIONAL
JAKARTA Sidang perkara dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terkait isu ijazah Joko Widodo dengan terdakwa Tifauzia Tyassuma alias Dokte
POLITIK