Dari sisi korporasi, perusahaan milik tokoh kripto Michael Saylor, Strategy Inc., mengumumkan pembelian tambahan 155 BTC senilai US$18 juta, sehingga total kepemilikan mereka kini melampaui US$75 miliar.
Saham perusahaan tersebut tercatat naik sekitar 3% ke level US$406,95 per saham.
Di Tanah Air, diskursus mengenai potensi Bitcoin sebagai bagian dari aset cadangan strategis negara mulai mendapat sorotan.
Wakil Presiden Indodax, Antony Kusuma, menilai bahwa hal ini merupakan momentum yang patut dikaji secara serius.
"Bitcoin memiliki potensi sebagai aset negara karena sifatnya yang desentralistik dan tahan terhadap inflasi. Namun, kebijakan ini tidak dapat diambil secara terburu-buru tanpa kajian menyeluruh dan berbasis data," ujar Antony dalam keterangannya.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pelaku industri, otoritas pengawas, dan lembaga pengelola kekayaan negara seperti BPI Danantara untuk menjajaki potensi tersebut secara objektif dan berkelanjutan.
Wacana ini mencuat setelah komunitas Bitcoin Indonesia mendapat undangan dari kantor Wakil Presiden RI untuk berdiskusi mengenai prospek aset digital.
Namun, Antony menegaskan bahwa pertemuan tersebut masih bersifat eksploratif.
"Publik perlu memahami bahwa pembahasan ini masih dalam tahap konseptual dan belum menjadi keputusan resmi pemerintah. Oleh karena itu, sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk spekulasi investasi dalam bentuk apa pun," ujarnya.
Sebagai pelaku industri, ia berharap diskusi mengenai peran aset kripto dalam ekonomi nasional dapat berlanjut ke tahap yang lebih konkret dan melibatkan kajian akademik serta strategi ekonomi jangka panjang.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai transaksi kripto di Indonesia hingga pertengahan 2025 telah mencapai Rp224,11 triliun dengan jumlah pengguna mencapai 15,85 juta orang.*