Dua Kali Mangkir Kasus HGB, KPK Ungkap Alasan Belum Cegah Menteri Nusron Wahid ke Luar Negeri
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum mengajukan pencegahan ke luar negeri terhadap Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Bad
NASIONAL
JAKARTA – Fenomena haus validasi, budaya pencitraan, hingga ketakutan tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO) menjadi tantangan baru dalam membangun hubungan yang sehat di era digital. Di tengah derasnya arus media sosial, masyarakat dinilai semakin rentan terjebak dalam relasi yang dangkal, instan, dan mudah dipengaruhi tren sesaat.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Kajian Filsafat dan Agama 2026 Seri Kedua bertema "Hubbud-Dunya di Era Digital" yang digelar The Lead Institute Universitas Paramadina bersama MaHa Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah, menjelaskan bahwa filsuf Madzhab Frankfurt, Erich Fromm, memandang cinta sebagai sebuah seni yang harus dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan secara sadar dalam kehidupan sehari-hari.Baca Juga:
Menurutnya, banyak manusia modern justru lebih fokus menjadi sosok yang dicintai ketimbang belajar mencintai orang lain secara tulus.
"Cinta bukan kepemilikan dan bukan hubungan transaksional, melainkan tindakan aktif yang ditandai perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan terhadap orang lain," ujar Yayah.
Ia menilai budaya media sosial yang dipenuhi pencitraan dan pencarian pengakuan publik membuat hubungan antarmanusia semakin rapuh. Banyak orang mengejar validasi digital, namun kehilangan kedekatan sosial yang autentik dan bermakna.
Karena itu, cinta perlu dimaknai sebagai energi sosial yang diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk kepedulian terhadap kelompok rentan, masyarakat marjinal, hingga pelestarian lingkungan hidup.
"Cinta dalam konteks kemanusiaan universal bukan sekadar emosi privat, tetapi energi positif yang diwujudkan melalui tindakan merawat kehidupan sosial dan lingkungan bersama," katanya.
Sementara itu, Ketua The Lead Institute, Suratno Muchoeri, mengulas pemikiran cendekiawan muslim Indonesia Nurcholish Madjid atau Cak Nur yang menempatkan cinta sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan.
Menurut Suratno, manusia perlu mewaspadai fenomena hubbud-dunya atau kecintaan berlebihan terhadap dunia yang kini muncul dalam bentuk baru di era digital, seperti budaya flexing, kecanduan gawai, obsesi terhadap viralitas, hingga kebutuhan berlebihan akan pengakuan publik.
"Cak Nur menempatkan cinta bukan hanya sebagai urusan pribadi, tetapi juga energi moral dan spiritual yang membimbing manusia menjadi lebih jernih, lembut, dan bertanggung jawab kepada sesama," ujarnya.
Ia menegaskan, baik Erich Fromm maupun Cak Nur sama-sama memandang cinta sebagai kekuatan aktif yang mampu membebaskan manusia dari egoisme, membangun kedewasaan, serta memperkuat solidaritas sosial.
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum mengajukan pencegahan ke luar negeri terhadap Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Bad
NASIONAL
JAKARTA Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menilai polemik mengenai persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibra
POLITIK
JAKARTA Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra men
NASIONAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut dua prajurit TNI aktif diduga masuk dalam konstruksi perkara korupsi dana siap pakai
NASIONAL
BINJAI Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Binjai membersihkan area blok hunian A dan B untuk menjaga kebersihan, kesehatan
PEMERINTAHAN
MEDAN Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) menargetkan revitalisasi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Latihan Kerj
PEMERINTAHAN
MEDAN Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sumatera Utara (Sumut) bersama Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumut menggelar Operasi
PEMERINTAHAN
MEDAN Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada 21.119 pekerja re
PEMERINTAHAN
MEDAN Jadwal Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Utara (Sumut) 2026 berpotensi mundur satu hingga dua pekan dari rencana awal pad
OLAHRAGA
JAKARTA Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyatakan penolakan terhadap wacana penghapusan unsur kerugian negara dalam tindak
POLITIK