JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami ketimpangan selama dua dekade terakhir.
Hal ini disampaikannya dalam Great Lecture: Transformasi Ekonomi Nasional – Pertumbuhan yang Inklusif Menuju 8%, di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Menurut Purbaya, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 20 tahun hanya digerakkan oleh dua kekuatan yang berjalan sendiri-sendiri: sektor swasta dan pemerintah. Ketidakseimbangan ini menyebabkan laju ekonomi tidak optimal.
"Dalam 20 tahun terakhir ini, mesin ekonomi kita pincang. Satu jalan diisi swasta, satu lagi hanya pemerintah," ungkap Purbaya, dikutip dari akun youtube great institute , GREAT Lecture Transformasi Ekonomi Nasional: Pertumbuhan Inklusif Menuju 8% Senin (15/9/2025).
Purbaya menjelaskan bahwa pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pertumbuhan ekonomi nasional mampu mencapai 5% hingga 6%, berkat peran kuat sektor swasta.
"Kredit tumbuh 21%, M0 tumbuh 17%. Infrastruktur mungkin terbatas, tapi mesin swasta bekerja agresif," jelasnya.
Namun berbeda pada era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), pembangunan infrastruktur dilakukan secara besar-besaran. Sayangnya, ini tidak diimbangi oleh geliat sektor swasta. Alhasil, pertumbuhan ekonomi melambat, rata-rata hanya mendekati 5%.
Purbaya memperingatkan bahwa jika kondisi ini tidak segera dibenahi, Indonesia bisa masuk dalam jebakan ekonomi yang membahayakan stabilitas sosial.
"Kalau ekonomi terus melemah, akan terjadi PHK, daya beli turun, masyarakat makin susah. Potensi konflik sosial makin besar," tegasnya.
Solusi: Dana Rp200 Triliun Dialihkan ke Perbankan
Sebagai solusi, Purbaya memutuskan untuk memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah dari BI ke sektor perbankan guna menambah likuiditas dan mendorong pertumbuhan uang beredar hingga 15–20%.
"Kalau ini berhasil, kita bisa lihat pertumbuhan ekonomi 6% hingga 6,5% dalam 1–2 bulan ke depan," ujarnya optimistis.
Purbaya menekankan pentingnya mendorong dua mesin ekonomi – swasta dan pemerintah – berjalan seimbang. Ia yakin, dengan strategi yang tepat dan kerja sama seluruh pihak, Indonesia bisa keluar dari perlambatan dan mendekati target pertumbuhan ekonomi 8%.*