BREAKING NEWS
Sabtu, 14 Maret 2026

Gangguan Selat Hormuz: Indonesia Terancam Defisit APBN Rp204 Triliun Jika Harga Minyak Mencapai USD100

Adelia Syafitri - Sabtu, 14 Maret 2026 17:21 WIB
Gangguan Selat Hormuz: Indonesia Terancam Defisit APBN Rp204 Triliun Jika Harga Minyak Mencapai USD100
Kapal tanker MT Gamsunoro milik Pertamina disewa oleh perusahaan perdagangan minyak terbesar kedua di dunia berbasis di Swiss, Trafigura Group. (Foto: Dok. PERTAMINA )
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi mengguncang perekonomian global, termasuk Indonesia.

Salah satu dampak signifikan yang diprediksi adalah gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz, jalur penghubung utama pasokan minyak dunia.

Selat ini mengalirkan sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak global, dengan negara-negara besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada distribusi energi di jalur tersebut.

Baca Juga:

Kenaikan Harga Minyak: Implikasi Bagi Indonesia

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan bahwa gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak negatif terhadap ekonomi global, yang mana keempat negara tersebut menyumbang hampir 27 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia pada tahun 2026.

"Jika gangguan pasokan energi terjadi di Selat Hormuz, maka dampaknya dapat memperlambat aktivitas industri dan perdagangan internasional, yang tentunya berimbas pada ekonomi Indonesia," ujar Komaidi pada Sabtu, 14 Maret 2026.

Negara-negara tersebut juga berperan penting dalam rantai pasok global, sehingga gangguan terhadap mereka dapat memperburuk kondisi ekonomi dunia.

Krisis Energi dan Tekanan Fiskal Indonesia

Sementara itu, dampak lebih langsung dirasakan oleh Indonesia, terutama dalam aspek fiskal. Seiring dengan status Indonesia sebagai net oil importer (pengimpor minyak bersih), lonjakan harga minyak dunia berpotensi memperburuk defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah, akan mendorong beban anggaran semakin membengkak.

Komaidi menjelaskan bahwa dalam proyeksi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 1 dolar AS per barel diperkirakan akan menambah defisit anggaran sekitar Rp6,80 triliun.

"Meski kenaikan harga minyak meningkatkan pendapatan negara dari sektor hulu migas, beban belanja negara juga meningkat secara signifikan," jelasnya.

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Bupati Aceh Timur Minta Kemenlu Tindak Lanjuti Penahanan 19 Nelayan di Thailand
Menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 H, Bupati Baharuddin Bersama Polres Batu Bara Gelar Apel Pasukan Operasi Ketupat 2026
Mentan Laporkan Cadangan Beras Nasional Cukup untuk 324 Hari, Namun Anggaran Terbatas
Prabowo Kaji Pemotongan Gaji Menteri dan Anggota DPR, Golkar Siap Mendukung
Jelang Idulfitri, Umat Buddha Sumut Bagikan 300 Paket Sembako untuk Warga
Trump Isyaratkan Perang Iran Segera Berakhir Jika Muncul “Pertanda Kuat” Ini
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru