Kenaikan itu, menurut dia, salah satunya dipicu oleh lonjakan hargaplastik kemasan yang digunakan pada hampir seluruh produk minyak goreng.
"Ya ada sedikit juga yang naik karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua," ujar Budi Santoso atau Busan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Meski demikian, pemerintah masih mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita di level Rp 15.700 per liter.
Budi menyebut produsen masih dinilai mampu menahan harga tersebut, meskipun harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terus mengalami kenaikan.
"Sekarang kan masih bisa. Ya masih bisa, ya memang itu kan fungsinya untuk menstabilkan harga," kata dia.
Budi menambahkan, stok minyak goreng di pasar dinilai masih dalam kondisi aman, baik di pasar tradisional maupun ritel modern.
Ia menegaskan bahwa minyak goreng di pasaran tidak hanya berasal dari merek MinyaKita.
Menurut dia, MinyaKita merupakan minyak goreng program Domestic Market Obligation (DMO) yang diproduksi dari kewajiban pasokan produsen untuk kebutuhan dalam negeri.
"MinyaKita itu kan minyak DMO, jadi jumlahnya terbatas," ujarnya.
Ia juga menyoroti persepsi masyarakat yang kerap menjadikan MinyaKita sebagai satu-satunya indikator ketersediaan minyak goreng.
Kondisi itu, kata dia, kerap menimbulkan kesan kelangkaan ketika stok merek tersebut menipis di pasar.
"Padahal kan banyak. Ada minyak second brand, kita minta produsen membuat minyak second brand," kata Budi.
Di sisi lain, hargaCPO global diproyeksikan masih berpotensi meningkat hingga pertengahan 2026.
Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) mencatat kenaikan harga dipicu ketegangan geopolitik global yang mendorong lonjakan harga energi.
IPOSS memperkirakan hargaCPO bisa mencapai sekitar 1.783 dolar AS per ton pada Juni 2026, naik dari level April yang sekitar 1.440 dolar AS per ton.
Kenaikan harga energi global tersebut turut meningkatkan permintaan CPO untuk biodiesel di sejumlah negara, yang pada akhirnya memberikan tekanan terhadap harga di pasar domestik.*