BREAKING NEWS
Jumat, 17 April 2026

Mendag Akui Harga Minyak Goreng Naik, Ini Penyebabnya

Dharma - Kamis, 16 April 2026 20:51 WIB
Mendag Akui Harga Minyak Goreng Naik, Ini Penyebabnya
Menteri Perdagangan Budi Santoso. (foto: Dok. Kemendag)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui adanya kenaikan harga minyak goreng di pasaran.

Kenaikan itu, menurut dia, salah satunya dipicu oleh lonjakan harga plastik kemasan yang digunakan pada hampir seluruh produk minyak goreng.

"Ya ada sedikit juga yang naik karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua," ujar Budi Santoso atau Busan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.

Baca Juga:

Meski demikian, pemerintah masih mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita di level Rp 15.700 per liter.

Budi menyebut produsen masih dinilai mampu menahan harga tersebut, meskipun harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terus mengalami kenaikan.

"Sekarang kan masih bisa. Ya masih bisa, ya memang itu kan fungsinya untuk menstabilkan harga," kata dia.

Budi menambahkan, stok minyak goreng di pasar dinilai masih dalam kondisi aman, baik di pasar tradisional maupun ritel modern.

Ia menegaskan bahwa minyak goreng di pasaran tidak hanya berasal dari merek MinyaKita.

Menurut dia, MinyaKita merupakan minyak goreng program Domestic Market Obligation (DMO) yang diproduksi dari kewajiban pasokan produsen untuk kebutuhan dalam negeri.

"MinyaKita itu kan minyak DMO, jadi jumlahnya terbatas," ujarnya.

Ia juga menyoroti persepsi masyarakat yang kerap menjadikan MinyaKita sebagai satu-satunya indikator ketersediaan minyak goreng.

Kondisi itu, kata dia, kerap menimbulkan kesan kelangkaan ketika stok merek tersebut menipis di pasar.

"Padahal kan banyak. Ada minyak second brand, kita minta produsen membuat minyak second brand," kata Budi.

Di sisi lain, harga CPO global diproyeksikan masih berpotensi meningkat hingga pertengahan 2026.

Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) mencatat kenaikan harga dipicu ketegangan geopolitik global yang mendorong lonjakan harga energi.

IPOSS memperkirakan harga CPO bisa mencapai sekitar 1.783 dolar AS per ton pada Juni 2026, naik dari level April yang sekitar 1.440 dolar AS per ton.

Kenaikan harga energi global tersebut turut meningkatkan permintaan CPO untuk biodiesel di sejumlah negara, yang pada akhirnya memberikan tekanan terhadap harga di pasar domestik.*


(km/ad)

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pengendalian Inflasi Jadi Fokus, Pemprov Sumut Siapkan Terobosan Baru
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.141/USD, Dibayangi Sentimen Konflik Global
Harga Cabai Rawit Tembus Rp75.900/Kg, Telur Ayam Ikut Naik ke Rp32.400/Kg
Harga Emas Antam Turun Rp5.000 Hari Ini, Simak Daftar Harga Terbaru Semua Ukuran
Bidhumas Polda Aceh Sabet Dua Penghargaan di Rakernis Humas Polri 2026
Harga Plastik Naik hingga 80 Persen, Puan Maharani Dorong UMKM Kembali ke Kemasan Daun
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru