Menurut Bahlil, pemerintah tidak bisa menahan harga BBM nonsubsidi karena mengikuti mekanisme pasar global. Sementara itu, pemerintah hanya menjamin kestabilan harga BBM subsidi.
"Kalau harganya turun, ya tidak naik. Tapi kalau harganya tetap tinggi, tentu ada penyesuaian," ujar Bahlil usai konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, penyesuaian harga tahap pertama telah dilakukan oleh Pertamina Patra Niaga sejak 18 April 2026 untuk sejumlah BBM nonsubsidi.
Adapun rincian harga terbaru antara lain Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter, Dexlite Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter.
Sementara itu, harga BBM lain seperti Pertamax (RON 92) masih bertahan di Rp12.300 per liter dan Pertamax Green Rp12.900 per liter.
Untuk BBM subsidi, pemerintah memastikan tidak ada kenaikan harga. Pertalite tetap di Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
"Yang bisa dijamin pemerintah itu BBM subsidi. Kalau nonsubsidi, mengikuti harga pasar," tegasnya.
Bahlil juga menjelaskan bahwa kebijakan harga BBM mengacu pada formula yang ditetapkan dalam regulasi Kementerian ESDM, yang mempertimbangkan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).
Saat ini, rata-rata ICP berada di kisaran 76 dolar AS per barel, masih di bawah ambang batas 100 dolar AS yang menjadi patokan stabilitas harga BBM subsidi.
Dengan kondisi tersebut, Bahlil menegaskan harga BBM subsidi dipastikan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026.*
(an/dh)
Editor
: Adelia Syafitri
Bahlil: Harga BBM Nonsubsidi Bisa Naik Lagi, Ikuti Minyak Dunia