Di sisi lain, volatilitas pasar energi global masih cukup tinggi. Harga batu bara sempat melemah selama tiga hari berturut-turut setelah meredanya ketegangan geopolitik internasional.
Kesepakatan gencatan senjata antara Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Selain itu, perusahaan energi ADNOC dilaporkan masih mampu menjaga distribusi sebagian kargo LNG meski terdapat gangguan di jalur pelayaran strategis.
Namun demikian, harga batu bara tetap relatif kuat karena pasokan LNG global masih ketat. Kontrak batu bara termal bahkan tercatat masih naik lebih dari 20 persen sejak awal tahun.
Permintaan batu bara premium juga masih kuat dari Jepang dan Korea Selatan yang masih bergantung pada batu bara termal asal Australia untuk menopang kebutuhan listrik dan industri.
Sementara di China, harga batu bara kokas tetap tinggi akibat turunnya stok tambang serta pembatasan produksi di wilayah utama seperti Provinsi Shanxi.
Survei Mysteel terhadap 523 tambang menunjukkan inventori batu bara kokas turun menjadi sekitar 5,37 juta ton, level terendah sejak awal Januari 2026.
Analis menilai kombinasi kebijakan energi India, ketatnya pasokan global, serta rendahnya stok di China berpotensi membuat harga batu bara dunia tetap bertahan kuat dalam beberapa waktu ke depan, meski tekanan transisi energi hijau terus meningkat.*