Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyampaikan kata sambutan dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026). (Foto: ANTARA/Rizka Khaerunnisa)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
JAKARTA – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat dan jauh dari potensi krisis seperti yang terjadi pada 1997–1998.
Juda mengatakan, berbagai indikator utama ekonomi seperti fiskal, neraca pembayaran, hingga sistem keuangan nasional masih terjaga stabil dan tidak menunjukkan tanda-tanda tekanan seperti pada masa krisis terdahulu.
"Jadi krisis yang bersumber dari fiskal itu tidak ada tanda-tandanya," ujar Juda dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan, defisit fiskal Indonesia saat ini masih berada di bawah 3 persen dari PDB dan pembiayaan negara tetap mendapatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing.
Menurutnya, hal itu tercermin dari imbal hasil (yield) surat utang negara yang relatif stabil di kisaran 6,5–6,7 persen.
Selain itu, Juda menyebut kondisi neraca pembayaran Indonesia juga masih sehat dan seimbang sehingga tidak menunjukkan gejala krisis seperti pada 1997–1998, ketika banyak perusahaan mengalami tekanan akibat utang luar negeri.
"Kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita, relatif sehat dan relatif balanced," katanya.
Ia juga menyinggung bahwa krisis bisa terjadi akibat ekspansi kredit yang berlebihan hingga pecahnya gelembung aset, seperti yang terjadi pada krisis global 2008. Namun, kondisi tersebut juga belum terlihat di Indonesia saat ini.
"Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini," ujarnya.
Meski demikian, Juda menegaskan ekonomi Indonesia tetap tumbuh solid dengan pertumbuhan 5,61 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan I-2026 dan inflasi yang terjaga di level 2,42 persen pada April 2026.
Ia menambahkan, konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, masing-masing tumbuh 5,52 persen dan 22 persen pada periode yang sama.
Menurut Juda, APBN saat ini berfungsi ganda sebagai shock absorber sekaligus engine of growth untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.*