BREAKING NEWS
Rabu, 03 Juni 2026

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.887 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik Jadi Sentimen Utama

Dharma - Rabu, 03 Juni 2026 09:38 WIB
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.887 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik Jadi Sentimen Utama
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat dinamika konflik geopolitik dan arah kebijakan ekonomi internasional.

Berdasarkan data RTI Infokom pukul 09.15 WIB, rupiah berada di level Rp17.887 per dolar AS, melemah 0,39 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Baca Juga:

Pergerakan rupiah ini berlawanan dengan sejumlah mata uang utama di Asia yang justru menguat.

Dolar Taiwan tercatat naik 0,05 persen, dolar Singapura menguat 0,02 persen, won Korea naik 0,02 persen, yen Jepang menguat 0,06 persen, dan dolar Hong Kong naik 0,01 persen.

Sementara itu, baht Thailand menjadi satu-satunya mata uang yang turut melemah, turun 0,06 persen.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipicu ketidakpastian perkembangan konflik geopolitik global, khususnya di Timur Tengah.

Ia menyoroti pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait negosiasi dengan Iran yang dinilai belum menunjukkan arah yang konsisten.

Di satu sisi, pembicaraan disebut masih berlangsung, namun di sisi lain muncul pernyataan yang mengindikasikan kemungkinan kebuntuan.

"Ketidakjelasan ini membuat pasar global berada dalam kondisi wait and see," kata Ibrahim, Rabu (3/6/2026).

Selain itu, pasar juga mencermati dinamika konflik di Timur Tengah, termasuk kesepakatan gencatan senjata parsial antara Lebanon dan Israel yang dinilai masih bersifat terbatas dan belum meredakan ketegangan kawasan secara menyeluruh.

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi rilis sejumlah data ekonomi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen secara tahunan (YoY), masih berada dalam target Bank Indonesia di kisaran 1,5–3,5 persen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) juga naik dari 111,09 menjadi 111,40.

Sementara itu, aktivitas manufaktur menunjukkan perbaikan dengan PMI Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah sebelumnya berada di zona kontraksi 49,1 pada April.

Meski demikian, Ibrahim menilai sektor industri masih menghadapi tekanan biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok yang dapat menahan laju pemulihan.

Untuk perdagangan hari ini, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS.*


(bi/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
IHSG Dibuka Lesu, Tapi Dua Saham Ini Malah Tembus Kenaikan Tinggi
Pemerintah Dorong Pemulihan UMKM Terdampak Bencana di Sumatera, Akses KUR dan Relaksasi Kredit Diperluas
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.839 per Dolar AS, Sentimen AS-Iran dan Tarif Trump Jadi Pemicu
Diaspora Muda Nusantara: Diplomasi Prabowo Bukan Seremonial, Hasilnya Nyata untuk Indonesia
SBY: Dunia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Indonesia Tak Bisa Sekadar Meniru Negara Maju
Respons Kritik Eks Wamenlu, Seskab Teddy Pamer 7 Capaian Hasil Kunjungan Luar Negeri Prabowo
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru