JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolarAmerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (4/6/2026), dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini diperkirakan mendorong Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat langkah intervensi di pasar valuta asing.
Berdasarkan data Doo Financial Futures, rupiah dibuka melemah 0,11 persen ke posisi Rp17.998 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi seiring tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia yang turut bergerak di zona negatif.
Di kawasan regional, yen Jepang melemah 0,11 persen, dolar Singapura turun 0,03 persen, won Korea Selatan melemah 0,35 persen, dan dolar Hong Kong juga terkoreksi 0,03 persen.
Peso Filipina tercatat melemah 0,22 persen, sementara yuan China turun 0,06 persen dan baht Thailand terkoreksi 0,10 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang justru mencatat penguatan terhadap dolar AS, di antaranya dolar Taiwan yang naik 0,15 persen, rupee India menguat 0,46 persen, serta ringgit Malaysia yang terapresiasi 0,45 persen.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut dalam jangka pendek.
Dalam kondisi tersebut, BI dinilai berpeluang meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
"Langkah intervensi akan semakin diperlukan apabila rupiah bergerak terlalu cepat menuju atau bahkan melampaui level Rp18.000 per dolar AS," ujarnya.
Menurut Lukman, penguatan dolar AS saat ini ditopang oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.