Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 5 Juni 2026.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya sentimen global dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat serta ketegangan geopolitik.
Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah dibuka turun 0,02 persen ke level Rp18.051 per dolar AS.
Baca Juga:
Dalam sebulan terakhir, mata uang Garuda tercatat melemah 3,68 persen, sementara sejak awal tahun koreksi mencapai 8,24 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan rupiah sejalan dengan tren mata uang Asia yang bergerak variatif.
Yuan China melemah 0,02 persen, dolar Hong Kong menguat 0,02 persen, dan yen Jepang naik 0,04 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, won Korea melemah tajam 1,16 persen, dolar Singapura turun 0,08 persen, baht Thailand melemah 0,25 persen, dan dolar Taiwan terkoreksi 0,14 persen.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada perdagangan hari ini.
Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.050 sampai Rp18.120 per dolar AS," kata Ibrahim, Kamis, 4 Juni 2026.
Menurut dia, sentimen global masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan rupiah, terutama perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah.
Meski Washington telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, ketegangan di kawasan tersebut masih berlangsung.
"Pasukan Israel masih memperluas operasi militer di Lebanon selatan," ujarnya.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menyoroti data ekonomi Amerika Serikat, termasuk laporan ketenagakerjaan non-pertanian (non-farm payrolls) yang menjadi acuan utama pelaku pasar global.
Data ADP terbaru menunjukkan penambahan 122.000 pekerjaan sektor swasta pada Mei, melampaui ekspektasi pasar.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah turut dipengaruhi kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak mentah dunia yang berpotensi memperlebar defisit fiskal hingga mendekati 3 persen.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar risiko fiskal dan meningkatkan ekspektasi intervensi pemerintah di sektor komoditas.
Selain itu, pasar juga masih mencermati potensi perubahan peringkat Indonesia dalam indeks MSCI yang hingga kini belum diumumkan secara pasti, sehingga menambah ketidakpastian di pasar keuangan.*
(bi/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.