Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (13/7/2026) dengan pergerakan negatif.
Indeks saham nasional dibuka melemah ke level 5.913,88 atau turun 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi 10,47 poin sesaat setelah pasar dibuka.
Baca Juga:
Pada awal perdagangan, indeks bergerak di rentang terendah 5.909,77 hingga sempat menyentuh level tertinggi 5.936,88.
Pelemahan IHSG dipengaruhi oleh tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps.
Beberapa saham unggulan seperti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) tercatat mengalami penurunan.
Pada perdagangan awal pekan ini, sebanyak 211 saham tercatat menguat, sementara 198 saham melemah dan 268 saham lainnya bergerak stagnan.
Total kapitalisasi pasar berada di angka sekitar Rp10.350 triliun.
Sejumlah saham dengan kapitalisasi besar yang mengalami koreksi antara lain PANI yang turun 1,27 persen ke posisi Rp5.825 per saham.
Kemudian saham BMRI melemah 1,23 persen menjadi Rp4.030 per saham, serta BBCA terkoreksi 1,21 persen ke level Rp6.100 per saham.
Selain itu, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) turun 1,17 persen.
Saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) melemah 0,87 persen, sedangkan PT Astra International Tbk. (ASII) terkoreksi 0,62 persen.
Di sisi lain, beberapa saham masih mampu bertahan di zona positif.
Saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) naik 1,56 persen, sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menguat 0,64 persen.
Meski dibuka melemah, pergerakan IHSG dinilai masih memiliki peluang untuk kembali menguat dan menguji sejumlah level penting pada perdagangan awal pekan.
Analis memperkirakan area support IHSG berada pada kisaran 5.850–5.870, sedangkan level resistance berada di rentang 5.970–6.050.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan, IHSG pada pekan sebelumnya masih mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,2 persen.
Namun, pergerakan indeks masih dibayangi oleh aksi jual bersih investor asing.
Menurut Fanny, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih sekitar Rp285 miliar.
Tekanan jual terbesar terjadi pada sejumlah saham seperti BBRI, BBCA, TLKM, DEWA, dan ASII.
Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan untuk menguji area resistance 5.950 hingga 6.050.
Namun, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan risiko koreksi karena kondisi indeks masih cukup rentan terhadap tekanan.
"Akan tetapi, sebaliknya jika IHSG berhasil tembus dan break di atas 6.050, ada potensi bagi indeks untuk terus menguat menuju target berikutnya di level 6.300," ujar Fanny dalam publikasi riset hariannya, Senin (13/7/2026).
Pergerakan IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh sentimen global, arus dana asing, serta kinerja saham-saham utama yang memiliki pengaruh besar terhadap indeks.
Bagi investor, keputusan investasi tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan analisis dan risiko masing-masing.
Informasi ini bukan merupakan ajakan untuk membeli maupun menjual saham.* (bi/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.