Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (14/7/2026) dengan pergerakan negatif.
Indeks saham utama Indonesia dibuka melemah ke level 6.026,91 atau turun 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG terkoreksi sebesar 10,92 poin pada pembukaan perdagangan pukul 09.02 WIB.
Baca Juga:
Pada awal sesi, indeks sempat bergerak di level terendah 6.020,36 dan kemudian naik hingga menyentuh posisi 6.065,39.
Pergerakan IHSG pagi ini dipengaruhi oleh tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps, seperti saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA).
Meski indeks melemah, aktivitas perdagangan masih menunjukkan dinamika positif.
Sebanyak 272 saham tercatat mengalami kenaikan, sementara 181 saham mengalami penurunan dan 214 saham bergerak stagnan.
Adapun nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp10.535,01 triliun.
Sejumlah saham unggulan yang mengalami tekanan antara lain saham BMRI yang turun 1,65 persen ke level Rp4.180 per saham.
Kemudian saham AMMN melemah 1,59 persen menjadi Rp3.720 per saham.
Saham DSSA juga terkoreksi 1,21 persen ke posisi Rp815 per saham.
Sementara saham sektor perbankan lainnya turut mengalami tekanan, seperti BBNI yang turun 0,85 persen dan BBCA melemah 0,80 persen.
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga tercatat mengalami penurunan sebesar 0,80 persen.
Di tengah pelemahan sejumlah saham besar, beberapa emiten justru mampu mencatatkan penguatan.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) naik 4,33 persen menjadi Rp3.370 per saham.
Kemudian saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menguat 2,12 persen ke level Rp1.930 per saham.
Meski dibuka melemah, sejumlah analis melihat IHSG masih memiliki peluang untuk kembali menguat.
Sentimen positif datang dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat Indonesia dengan prospek stabil atau stable outlook.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman mengatakan, IHSG sebelumnya berhasil ditutup menguat signifikan sebesar 1,92 persen pada perdagangan awal pekan.
Namun, penguatan tersebut masih diikuti aksi jual bersih investor asing dengan nilai sekitar Rp413 miliar.
Beberapa saham yang terkena tekanan jual asing antara lain BBCA, MAPI, ASII, TINS, dan DEWA.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan tren positif apabila mampu menembus level 6.050.
"IHSG berpotensi naik kembali jika mampu menembus level 6.050, dengan target penguatan jangka pendek menuju area 6.150. Katalisnya adalah penetapan stable outlook untuk Indonesia oleh S&P," ujar Fanny dalam riset hariannya, Selasa (14/7).
BNI Sekuritas memperkirakan level support IHSG berada pada kisaran 5.970–6.000, sementara area resistance berada di rentang 6.100–6.150.
Pergerakan IHSG ke depan masih akan dipengaruhi oleh sentimen global, kondisi ekonomi domestik, serta respons investor terhadap perkembangan pasar keuangan.
Catatan: Berita ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham.
Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.* (bi/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.