BREAKING NEWS
Rabu, 15 Juli 2026

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.043 Triliun, Bank Indonesia Pastikan Tetap Aman

Abyadi Siregar - Rabu, 15 Juli 2026 14:44 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.043 Triliun, Bank Indonesia Pastikan Tetap Aman
Bank Indonesia. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mengalami kenaikan pada Mei 2026.

Meski nilainya bertambah dibandingkan bulan sebelumnya, bank sentral menilai kondisi utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang aman dan terkendali.

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi ULN Indonesia pada Mei 2026 mencapai 444,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 8.043,64 triliun.

Baca Juga:

Nilai tersebut meningkat dibandingkan April 2026 yang tercatat sebesar 439,8 miliar dolar AS.


Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pertumbuhan utang luar negeri Indonesia juga mengalami sedikit peningkatan secara tahunan.

"Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada Mei 2026 tetap terjaga."

Menurut Denny, secara tahunan pertumbuhan ULN Indonesia mencapai 2,1 persen (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tumbuh 2 persen.

Ia menjelaskan, kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, baik pemerintah maupun bank sentral, sementara kontraksi utang luar negeri swasta mulai berkurang.

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri pemerintah mencapai 217,3 miliar dolar AS pada Mei 2026.

Meski secara nominal meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, laju pertumbuhan utang pemerintah tetap berada di angka 3,7 persen, sama seperti April 2026.

Denny menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi masuknya dana investor melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

"Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia yang terjaga, di tengah pembayaran neto pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo."

Bank Indonesia juga mencatat hampir seluruh utang luar negeri pemerintah merupakan utang jangka panjang, sehingga dinilai lebih aman dari sisi pengelolaan.

Dana pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai berbagai sektor produktif, antara lain:

- Jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22 persen)
- Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,6 persen)
- Pendidikan (16,2 persen)
- Konstruksi (11,5 persen)
- Transportasi dan pergudangan (8,5 persen)

Menurut Denny, pemerintah tetap mengutamakan keberlanjutan dalam pengelolaan utang.

"Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek sustainabilitas pengelolaan ULN."

Di sisi lain, utang luar negeri swasta pada Mei 2026 tercatat sebesar 195,9 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 193,2 miliar dolar AS.

Meski demikian, secara tahunan pertumbuhan utang swasta masih mengalami kontraksi sebesar 0,1 persen, namun kondisi tersebut lebih baik dibandingkan April 2026 yang terkontraksi 0,7 persen.

Menurut Denny, perbaikan tersebut terutama berasal dari kelompok lembaga keuangan.

"Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) yang secara tahunan mencatatkan kontraksi sebesar 0,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada April 2026 sebesar 5 persen (yoy)."

Bank Indonesia mencatat sebagian besar utang luar negeri swasta berasal dari sektor:

- Industri pengolahan
- Jasa keuangan dan asuransi
- Pengadaan listrik dan gas
- Pertambangan dan penggalian

Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,9 persen dari total utang luar negeri swasta.

Selain itu, sekitar 74,9 persen utang luar negeri swasta merupakan pinjaman berjangka panjang.

Bank Indonesia menilai struktur utang luar negeri Indonesia masih berada dalam kondisi sehat.

Hal tersebut terlihat dari rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga di level 29,9 persen pada Mei 2026.

Selain itu, sekitar 83,9 persen dari total utang luar negeri Indonesia merupakan utang jangka panjang sehingga dinilai lebih stabil dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

"Serta didominasi ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 83,9 persen dari total ULN."

Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia memastikan pengelolaan utang luar negeri Indonesia masih dilakukan secara hati-hati untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.* (km/ad)

Editor
: Johan
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Krisis BBM di Medan, Warga Antre Berjam-jam hingga Terlambat Kerja dan Kehilangan Penghasilan
Ijeck Desak Jalur Kereta Medan-Aceh Segera Dilanjutkan, Solusi Kurangi Macet dan Polusi
Bupati Batu Bara Hadiri Pisah Sambut Kapolres, Tegaskan Komitmen Perkuat Sinergi untuk Keamanan Daerah
Bupati Batu Bara Tegaskan Komitmen Pemkab Salurkan Insentif bagi Bilal Mayit, Penggali Kubur, dan Guru Mengaji
Bupati Tanjung Jabung Timur Tegaskan Investasi Harus Bersih dari Pungli, Polemik Pembangunan PKS PT AMA Disorot
6 Bulan Jalan Rusak Parah, Warga Desa Sibulan Bulan Minta Bupati Taput Segera Bertindak: Tolonglah Pak, Jangan Tunggu Ada Korban Baru Diperbaiki
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru