BREAKING NEWS
Kamis, 16 Juli 2026

Rupiah Ditutup Menguat, Konflik AS-Iran Masih Jadi Ancaman Pasar

Adelia Syafitri - Rabu, 15 Juli 2026 17:07 WIB
Rupiah Ditutup Menguat, Konflik AS-Iran Masih Jadi Ancaman Pasar
ilustrasi - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (15/7/2026). (Foto: emitennews)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Rabu (15/7/2026). Meski demikian, pelaku pasar diminta tetap mewaspadai meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang global.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup menguat 23 poin atau sekitar 0,13 persen ke level Rp18.068 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga:

Menurut Ibrahim, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sebagai balasan, Iran dikabarkan melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur milik AS di kawasan Timur Tengah.

"Teheran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat dalam sepekan terakhir," ujar Ibrahim dalam riset hariannya.

Laporan juga menyebutkan militer Iran meluncurkan serangan drone ke pangkalan militer AS di Azraq, Yordania. Selain itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim menargetkan fasilitas militer di Bahrain dan Kuwait. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Pentagon terkait laporan tersebut.

Ketegangan geopolitik tersebut dinilai meningkatkan ketidakpastian pasar global dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan turut menjadi sentimen positif bagi pasar. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Juni 2026 tercatat melambat menjadi 3,5 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 3,8 persen. Sementara inflasi inti juga turun menjadi 2,6 persen.

Kondisi tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) kembali menurun. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16 persen, sedangkan peluang kenaikan pada September menjadi sekitar 60 persen.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai perhatian investor juga tertuju pada kebutuhan pembiayaan utang pemerintah yang diperkirakan meningkat seiring pelebaran defisit APBN 2026.

Pemerintah diproyeksikan membutuhkan pembiayaan utang baru hingga sekitar Rp1.768 triliun, sementara total posisi utang pemerintah diperkirakan mencapai sekitar Rp10.600 triliun pada akhir 2026.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 mencapai USD444,4 miliar, atau tumbuh 2,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya utang sektor publik, termasuk pemerintah dan bank sentral.

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memprediksi nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan potensi berada pada kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS, seiring masih tingginya ketidakpastian global.* (oz/dh)

Baca Juga:

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Menguat ke Rp18.065 per Dolar AS, Didorong Inflasi Amerika Serikat yang Lebih Rendah
Nilai Tukar Rupiah Ditutup Menguat di Tengah Ketidakpastian Global
Rupiah Tembus Rp18.129 per Dolar AS! Apa Penyebab Pelemahan Hari Ini?
Rupiah Anjlok ke Rp18.109 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Sentimen Domestik Jadi Sorotan
Rupiah Melemah ke Rp18.124 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Tekan Pasar Keuangan
OTT Bupati Sukoharjo, KPK Ungkap Barang Bukti Miliaran: Emas, Valas, hingga Uang Tunai
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru