JAKARTA – KomediPandji Pragiwaksono dalam acara Mens Rea menuai kritik dari pakar pendidikan Ina Liem dan musisi dr. Tompi karena dianggap menyinggung fisik Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Keduanya menegaskan, humor yang merendahkan fisik orang lain tidak pantas dijadikan bahan lelucon.
Ina Liem menyampaikan keprihatinannya atas tren komedi yang kerap menjadikan kondisi fisik orang lain sebagai bahan tertawaan publik.
Menurutnya, dampak candaan semacam itu bisa merusak martabat dan menimbulkan pengaruh negatif, terutama bagi generasi muda.
"Bayangkan wajah anak-anak atau orang tua kalian dipakai sebagai bahan candaan publik, masih bisa tertawa enggak? Pantas enggak?" ujar Ina Liem melalui akun Instagram pribadinya, Senin (5/1/2026).
Ia menegaskan bahwa menghina tampang manusia adalah menghina karya Tuhan yang tidak bisa diubah.
Selain itu, Ina menyoroti tanggung jawab public figure dalam membentuk budaya publik.
"Apa yang diucapkan figur publik mudah dinormalisasi dan ditiru. Stand up comedy harus menjadi seni yang memiliki tanggung jawab moral," tegasnya.
Sejalan dengan Ina, dr. Tompi juga menyampaikan pandangan kritisnya. Menurutnya, menertawakan kondisi fisik seseorang, apapun konteksnya, bukanlah kritik yang cerdas.
Ia mencontohkan kondisi medis seperti ptosis, kelopak mata mengantuk, yang bisa bersifat bawaan atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon.
"Kritik, satire, dan humor tetap sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukan kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir. Mari kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya," kata Tompi.
Meski demikian, dr. Tompi tetap mengapresiasi keseluruhan materi stand up Pandji di Mens Rea. Ia menilai banyak materi yang berbobot dan tetap layak ditonton.
"Btw saya nonton shownya di Netflix, keren kok materinya. Banyak benernya," pungkasnya.*